Kolom sebelumnya, saya sengaja mengulas sedikit soal bagaimana, antara lain misalnya Snouck Hurgronje berkomunikasi dengan militernya dalam rangka menjawab kepentingan praktisnya. Ketika ia meyakinkan gubernur jenderalnya agar memberi kepercayaan dalam menemukan penjelasan tentang apa yang terjadi di Aceh abad ke-20.
Ia meyakinkan gubernur jenderal sebegitu rupa. Bahkan dengan sangat yakin, ia meyakinkan gubernur jenderal, bahwa penelitian penelitian yang akan dilakukan jauh lebih subur andaikata keadaan membolehkannya berkunjung ke pusat-pusat kehidupan Islam yang terpenting.
Permintaan lain Snouck, adalah mempertemukannya –langsung atau tidak langsung –beberapa orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang diinginkan. ”…tidaklah tertutup kemungkinan Gubernur Aceh – kalau perlu – akan mengusahakan pembicaraan antara saya dengan seseorang yang selalu saya dengar dipuji di Mekah oleh orang-orang Aceh sebagai pemimpin rohani mereka. Syekh Saman …,”
Snouck sangat yakin bahwa keadaan agama terjalin erat dengan politik, di tanah ini. Tokoh rohaniawan atau ulama, baginya sebagai sesuatu yang penting untuk tidak dimusuhi –secara terbuka. Di belakang, ia menyuplai agar kebijakan mengerasi.
Begitulah intelektual penting itu, yang sebagian referensi dikatakan tidak terbantahkan hingga kini. Generasi kemudian, menganggap sebagai seseorang yang super luar biasa.
Kondisi tersebut, mungkin dapat dipahami sebagai politik belah bambu. Makanya ketika “Teori Receptie Complexu” digugat “Teori Receptie” (antara Van Den Berg dan Snouck), Hazairin, sang pahlawan hukum Indoneia, menyebut itu sebagai pemikiran untuk pecah belah. Ada kepentingan. Untuk menghancurkan perkembangan Islam. Melalui Aceh.
Hindia Belanda, tidak masalah membayar mahal untuk Snouck. Seabad yang lalu, ilmuwan bisa menyumbang ilmu dan pengetahuan kepada banyak orang –terlepas ilmu dan pengetahuan tersebut—dipandang dalam perspektif berbeda oleh ilmuwan lainnya. Generasi hebat sekarang tentu bisa memberikan kontribusi yang berlipat-lipat dari para ilmuwan masa lalu. Harapan dengan pola-pola yang sehat dan tidak dengan penuh kepentingan.
Terlepas dalam peradaban, selalu saja ada catatan yang memberi sisi positif berupa pengetahuan, namun catatan-catatan proses dalam mendapatkan jawaban ilmiah dari intervensi kekuasaan, pada akhirnya menjadi masalah. Saat kepentingan menjadi misi utama dalam menjawab masalah, maka seketika itu, jawaban ilmiah yang dilahirkan akan cacat.
Realitas akhir abad ke-20, dengan berbagai bentuk terjadi hingga era posmo sekarang –bukan hanya di sekeliling kita, melainkan juga terjadi di banyak negara dan lembaga. Para orang-orang pandai berlomba-lomba mendapatkan pembiayaan riset, untuk menyelesaikan problem manusia, termasuk dari mereka-mereka yang langsung atau tidak, terlibat dalam penghancuran manusia dan peradabananya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.