Sejumlah kasus orang-orang besar, orang-orang yang berkuasa, berkaitan dengan bagaimana penghargaan itu diterima. Penghargaan dalam makna sempit. Ketika semua yang menerima sesuatu, harus dikapitalisasi dengan wujud yang berbeda-beda. Kadang-kadang, untuk sesuatu yang baik dan mengatasnamakan agama pun, ada penghargaan yang diberikan sebagai bentuk terima kasih. Misalnya, ketika ada bantuan untuk membangun masjid, atau tempat orang menuntut ilmu, ada saja penghargaan yang diberikan kepada mereka yang menyalurkan.
Orang sudah tidak malu lagi mengucapkan terima kasih dengan amplop. Hal ini menjalar juga ke dunia pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Mereka yang dianggap berjasa membawa proyek tertentu, ada yang mendapat bagian dan itu terlanjur dianggap sebagai penghargaan dan bentuk terima kasih.
Ada pengelola badan kemakmuran masjid, yang masih berani mengumumkan ada sedikit uang administrasi yang dikeluarkan saat mereka menerima bantuan. Belum lagi proyek-proyek penguasa yang dititipkan dalam pokok pikiran. Ada uang terima kasih yang terang-terangan ternyata terjadi. Entah sampai kapan jalan pembusukan peradaban ini akan terus berlangsung –bahkan secara terang-terangan.
Dapatkah itu bisa diklaim sebagai bentuk penghargaan? Memang berbagai cara dilakukan orang untuk dihargai orang lain. Ada cara-cara yang positif, dan tidak jarang dilakukan dengan cara-cara yang negatif. Cara yang positif umumnya dilakukan dengan langkah yang santun. Sebaliknya yang negatif, dilakukan dengan pemaksaan kehendak.
Orang-orang yang gila pangkat dan jabatan, biasanya akan menggunakan cara-cara yang tidak baik agar selalu dihargai oleh orang lain. Harga dalam makna ini bisa disebut sebagai hormat. Kemana-mana harus dilakukan penyambutan secara khusus, yang mungkin harga kegiatan penyambutan lebih besar dari harga kegiatan utama.
Ada hal yang sering kita lupakan, bahwa korelasi antara menghargai dan dihargai nyata adanya. Orang-orang yang menghargai orang lain, pada akhirnya akan dihargai. Sebaliknya, mereka yang tidak menghargai, berkemungkinan ia tidak akan dihargai oleh orang lain.
Proses harga-menghargai ini, sekali lagi, bisa dilakukan dengan penuh kerelaan, namun tidak jarang, harus dengan ragam paksaan. Tujuan dihargai ini juga ragam coraknya. Hanya ingin menunjukkan kuasa, atau proses agar orang-orang berusaha menghargai orang-orang yang di sekelilingnya.
Seorang oknum bupati yang ditangkap KPK, ternyata sangat rajin menerima penghargaan dari bawahannya, bentuknya dengan mengatasnamakan agama. Setiap even kultural dan agama, ia selalu menerima tunjangan hari raya dari bawahannya. Jumlah beragam, tergantung dinas apa yang dipegang. Tetapi kultural ini kerap menjadi juga menjadi jalan belakang. Seorang kenalan, yang sering menawarkan kegiatan-kegiatan ilmiah, tetapi selalu meminta persen, ternyata ketemu selalu saat ia baru pulang menjenguk anak di tempat belajar agama. Mudah-mudahan semakin banyak barisan yang baik, yang tidak main belakang seperti kenalan tadi.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.