Kadang-kadang konflik dan perang memang diundang dengan sengaja. Tidak selalu disebabkan oleh hal-hal yang besar. Sekiranya kita menjenguk ke belakang, pemicu Perang Dunia I terjadi ketika tahun 1914, seseorang dari Serbia bernama Gavrilo Princip membunuh Archduke Franz Ferdinand dan istrinya dari Austria. Setiap perang selalu ada bangunan sekutu. Perang Dunia I, Austria, Jerman dan Italia, berada dalam satu titik. Titik lain ada Perancis dan Rusia. Inggris memilih berpihak dalam lini ini.
Perang Dunia II, terjadi ketika sejumlah pemantik muncul. Tahun 1939, Jerman menyerang Polandia. Tahun 1930-an, Jepang melancarkan serangan ke Tiongkok. Pada saat yang sama, Perancis dan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman. Pemetaan blok juga terjadi. Keberadaan blok yang menyebabkan masing-masing kekuatan memiliki kepercayaan diri untuk saling melakukan invasi. Di Asia, blok Jepang dan Amerika menjadi penguasa, yang akhirnya dimenangkan sekutu pada 1945.
Sebuah berita Serambi Indonesia edisi 12 Oktober 2015, memperingatkan betapa kasus di Suriah menjadi cermin dari banyaknya kepentingan dan blok. Bahkan kepentingan tersebut, jika tidak dikelola akan bisa menjadi sumbu bagi Perang Dunia III. Ada kekuatan Moskwa yang bersekutu dengan kekuatan Suriah Bashar Assad. Ada konflik yang nyata waktu itu, ketika kekuatan mulai dilancarkan, antara Amerika dan Rusia –kekuatan ini yang juga didukung oleh China. Di belakang masing-masing blok, banyak pengikut. Dengan gerakan masing-masing negara itulah, yang akan diikuti oleh negara-negara yang mengikutnya itu.
Seperti ketika melihat sesekali orang yang bertengkar di kampung, begitulah juga dengan negara-negara. Konflik serius yang tidak jarang, dimulai dari hal-hal yang kecil dan saling ejek. Bahkan hal tersebut dilakukan terang-terangan dengan tujuan memang untuk memicu yang bisa memacu detak jantung lebih cepat.
Mirip ketika suatu kali Presiden Palestina sedang berdiplomasi secara intens dengan Israel, tiba-tiba Perdana Menteri utusan presiden Israel Ariel Sharon berkunjung ke Aqsa –tempat yang menjadi perdebatan serius sehingga konflik dan peperangan terjadi sejak 1947. Tahun 2001, ketika Sharon menang secara politik di Israel, tidak lepas dari berbagai pernyataan kerasnya ketika berhadapan dengan kasus konflik mereka dengan Palestina. Hingga kini, aturan ketat Muslim untuk dapat melangkah ke Aqsa dibuat sedemikian rupa.
Hal ini bukan dilakukan dengan tidak sengaja. Di sinilah menandakan bahwa perang dan konflik, salah satunya turut disebabkan oleh adanya rangsangan mereka yang berkuasa, terkait dengan kepentingan mereka yang ingin tetap mempertahankan kedudukannya. Dengan kepentingan demikian, konflik bukannya mereda, melainkan terus melebar dan menjangkau kemana-mana. Bahkan mereka yang secara politik berkepentingan, sering tidak menjadi obat, malah menjadi penyulut dan penyulit.
Betapa banyak pejabat kekuasaan di dunia ini, telah turut terlibat dalam bona panas konflik di mana-mana. Keterlibatan ini, bisa jadi berlapis pula dengan berbagai kepentingan lain di belakangnya. Mengapa negara saling mengklaim sebelum Perang Dunia? Ternyata sangat berkepentingan dengan sumber daya alam dan penguasaan kawasan strategis dunia.
Barangkali kondisi inilah yang berulang-ulang dengan gaya yang baru. Tahun 2002, sekutu berhasil merebut Timur Tengah dengan berbagai pola perang yang dilakoni. Lalu ketika ada yang menentang, sang pemimpin sekutu, waktu itu tahun 2000, Bush dalam pidatonya dengan penuh percaya diri menyebut Irak, Iran, dan Korea Utara sedang berada dalam satu poros yang disebutnya sebagai poros setan. Amerika tidak berhasil melucuti senjata pemusnah massal yang dituduhkan Amerika ketika itu ada diketiga negara tersebut.
Kita tidak tahu, pemicu apa lagi yang nanti akan hadir, baik dalam bentuk yang lama maupun dalam bentuknya yang baru, untuk konflik dan perang yang baru? Mudah-mudahan tidak terjadi.