Tekad itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Tekad yang memompa semangat kita untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Tekad ini sebagai kekuatan tersembunyi, yang dengannya membuat semangat kita untuk melakukan sesuatu bertambah berlipat-lipat.
Saya membayangkan bagaimana manusia mampu melakukan sesuatu saat terjepit dan butuh jalan keluar. Orang-orang yang dikejar binatang buas, akan mengeluarkan kekuatan tersembunyi itu. Tekad menyerupai kekuatan tersembunyi yang dahsyat itu.
Semua orang memiliki kekuatan untuk ini. Tinggal saja ia akan mempergunakan atau tidak. Orang yang menggunakan terlihat dari kegigihannya dalam melakukan sesuatu. Mereka yang abai, hanya tidur-tidur saja. Harus ada kesadaran bahwa usaha itu sangat penting, walau ia tetap harus diiringi dengan doa, bertongkat kepada Pencipta.
Orang yang gigih selalu memiliki jalan keluar dari setiap persoalan kehidupan yang dijalaninya. Tekad akan menjaga semangat agar melakukan sesuatu sebagai usaha, tiada henti. Tidak putus semangat begitu ada kegagalan satu atau dua kali. Justru dengan berbagai kegagalan akan menjadi pengalaman untuk menembus target yang lebih besar.
Saya beranggapan ada sesuatu yang membuat orang bisa melakukan apapun. Seorang teman saya, bisa berbahasa Arab dalam waktu hanya beberapa bulan saja. Suatu waktu, ia bercerita, ingin sekali belajar ke Timur Tengah. Masalahnya adalah ia dari keluarga miskin. Dalam bahasa sekarang, jangankan berharap dari keluarga untuk membiayai pendidikan ke sana, malah rasanya bermimpi saja sepertinya tidak ada peluang. Namun dengan tekad yang kuat seperti baja, peluang berbagai beasiswa yang tersedia, membuatnya benar-benar memiliki kekuatan untuk mewujudkannya.
Saya penting mengatakan lagi, bahwa ini bukan soal uang. Ia tidak punya uang untuk ikut pelatihan bahasa. Dengan berbagai cara ia mengakses orang yang bisa membantunya, dengan memberi pinjaman bahan dari orang yang dia kenal –yang pernah belajar ke sana. Hasilnya sungguh tidak terduga. Ia menjadi salah satu yang mendapat tempat untuk belajar di kampus terkenal.
Seorang lain, kini belajar di Belanda, juga sama kasusnya dengan teman tadi. Teman ini juga bukan dari keluarga mampu. Ketika saya mengenalnya, ketika kuliah, waktu yang dihabiskan lebih banyak di pustaka ketimbang di tempat lain, misalnya di kantin-kantin dan tempat makan. Menariknya, ia ambil bagian dari kegiatan bersama mahasiswa, dengan tanpa melupakan tekadnya untuk bisa belajar ke Belanda. Dengan modal bahasa dari nol, ia kemudian menjadi salah satu penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana.
Tekad semisal ini, banyak terjadi. Betapa banyak orang-orang miskin, yang tiada terduga bisa melaksanakan ibadah haji. Ternyata siapapun bisa melakukannnya. Para pemulung dan penjual daun pisang, penjual kios kecil, atau bahkan penjual gorengan, yang tiba-tiba menjadi tamu Allah. Sedangkan orang-orang yang secara ekonomi berlipat-lipat lebih dari orang-orang demikian, ketika ditanya kapan akan ke haji, menjawab dengan “belum adanya panggilan”. Bagi orang-orang kecil tersebut, “panggilan” itu dijemput dengan tekad keras. Kerinduan membuat semangatnya berlipat-lipat. Sama seperti dua teman saya di atas, ketika kerinduan mereka ingin menuntut ilmu ke Timur Tengah dan Belanda, semangatnya untuk belajar bahasa luar biasa besarnya. Kekuatan semangat yang besar ini akan menghasilkan sesuatu yang besar pula. Maka orang-orang yang bertekad ingin mencapatkan sesuatu yang pas-pasan, tidak terlalu sulit, cukup bertekad dengan biasa-biasa saja.
Namun demikian semuanya juga tidak boleh lupa bertongkat pada Pemilik Kuasa. Orang-orang yang melupakan kehendak dan kuasa Pencipta, tidak layak menjadi manusia, karena menjadi manusia itu seyogianya hanya untuk mengabdi kepada Pencipta, bukan kepada yang lain. Orang-orang yang berpikir bahwa semuanya bisa didapatkan tanpa bantuan siapa pun dan dari mana pun, adalah orang-orang yang berbahaya dan membahayakan hidupnya sendiri. Orang yang begitu hanya menunggu waktu untuk sekaligus terjun bebas ke dalam jurang yang paling dalam.
Ketika tekad sudah tercapai, maka ada tekad lain yang harus dilahirkan, yakni menjaga semuanya berjalan sesuai jalurnya. Semua harus selalu berlalu di jalan lurus. Bukan sebaliknya. Lindungi kami ya Allah.