Tujuan hakiki dari hidup yang ingin dicapai oleh seseorang, harus diketahui dari awal. Orang yang tidak memiliki tujuan hidup, bisa berbahaya. Tujuan hidup yang akan mengarahkan apa yang seharusnya ditempuh seseorang. Secara normatif itu selalu begitu. Ada garis yang melingkari sesuatu yang akan ditempuh. Orang-orang yang berhasil mampu menjaga orientasi dari tujuan ini.
Orang yang senantiasa memegang teguh apa yang ingin dicapai, tidak mungkin terombang-ambing. Mohon maaf, termasuk menilai diri menjalani hidup yang tidak berguna. Tidak ada yang tidak berguna dalam hidup yang selalu dibangun dari tujuan yang ingin dicapai itu. Orang-orang yang menyebut hidup itu tidak bernilai, karena ia tidak tahu apa sesungguhnya yang menjadi tujuan hidupnya.
Atas dasar itulah, tujuan hidup itu, setelah ditentukan, ia harus dijaga dan diusahakan untuk dicapai secara maksimal. Langkah ini yang disebut dengan usaha. Orang-orang yang sudah berusaha, ada hal lain yang juga harus dilakukan, yakni berdoa. Keduanya sangat penting dalam kehidupan.
Dengan perjalanan waktu, lalu menghadapi berbagai keadaan, keteguhan dari orientasi hidup harus selalu dijaga. Waktu yang berjalan ke depan harus selalu menghasilkan kebaikan dari kebaikan yang pernah ada. Kualitas kehidupan yang selalu harus meningkat.
Putaran waktu, bergulir terus-menerus, hingga suatu titik. Ada cara pandang yang berbeda terkait dengan umur manusia. Seseorang ketika waktu terus berputar, maka usianya yang bersisa menjadi berkurang. Tidak bertambah, seperti yang dipahami banyak orang. Orang-orang yang semakin hari semakin menghitung waktu yang tersisa. Entah kapan titik akhirnya. Hanya Allah yang tahu.
Begitulah. Waktu, selalu berjalan ke depan. Waktu, tidak bisa berbalik ke belakang. Waktu yang lalu penting untuk menjadi catatan dan upaya memperbaiki diri pada masa depan. Bukan kembali ke masa lalu. Makanya dikatakan seperti pedang, yang memotong begitu manusia tidak mampu memanfaatkannya secara optimal. Tidak ada arti menyesal apabila tidak mencoba membangun kekuatan untuk memperbaiki hidup pada hari-hari kemudian.
Ada satu pesan dalam agama yang sangat penting diungkapkan, bahwa manusia selalu harus berbuat yang terbaik setiap waktu. Tidak boleh tidak. “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini”. Maka, merugilah orang yang kemarin dan hari ini tiada bedanya. Bayangkan, prestasi yang sama saja disebut merugi, apalagi kalau kemarin lebih baik dari hari ini.
Setiap momentum tertentu, seharusnya kita mengingat pergantian lembar kehidupan. Denting waktu yang terus berputar. Generasi Muslim harus bersemangat untuk melakukan refleksi setiap ada perputaran waktu demikian.
Kita sudah melewati awal tahun hijriah. Momentum ini seharusnya sangat penting sebagai refleksi, bahwa tahun hijriah ini terkait dengan sejarah dan kebangunan peradaban Islam. Ia menjadi titik tolak dari sebuah perjalanan Nabi yang wajib kita imani: perjalanan dari Mekkah ke Madinah, untuk sebuah hijrah yang terjadi pada 622 M.
Ada perbedaan titik mula antara kalender masehi dan hijriah. Untuk kalender hijriah, permulaan hari dan tanggal baru dimulai ketika matahari terbenam. Maka ketika menyambut puasa atau hari raya, setelah ashar di hari sebelumnya, dinyatakan sudah masuk waktu tersebut. Sementara, tahun hijriah dimulai ketika jam menunjukkan waktu pada 00.00.
Begitu juga dengan nama bulan: 1 Muharram untuk tahun baru, dilanjutkan dengan Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah, dengan mulai Ahad, Isnin, Tsalatsa, Arba’, Khamsah, Jumu;ah, dan Sabt. Masing-masing daerah memiliki istilah sendiri nama-nama bulan ini.
Detik perputaran waktu, harus membuat kita semakin banyak belajar akan kekayaan peradaban kita. Peradaban yang dengan penuh kesadaran sama-sama ditinggalkan untuk mencari milik orang lain. Seperti kata, gajah di pelepuk mata tidak kelihatan, semut di seberang diteropong.
Setiap momentum, mari kita jaga orientasi kebaikan, dengan memahami tujuan hidup yang akan kita capai sebagai manusia. Tujuan kita hanya untuk mengabdi kepada Pencipta.