Materi

Saat bertugas, mungkin seorang guru tidak berpikir akan memperoleh sesuatu. Saya melihat sendiri bagaimana guru-guru yang sudah pensiun, sederhana sekali hidupnya. Tidak ada materi yang berlimpah, sehingga mampu membeli berbagai kebutuhan sekunder. Saya mendengar tidak …

Saat bertugas, mungkin seorang guru tidak berpikir akan memperoleh sesuatu. Saya melihat sendiri bagaimana guru-guru yang sudah pensiun, sederhana sekali hidupnya. Tidak ada materi yang berlimpah, sehingga mampu membeli berbagai kebutuhan sekunder.

Saya mendengar tidak sedikit guru yang hidupnya pas-pasan. Untuk kebutuhan primer saja sulit, apalagi dengan anaknya yang kuliah beberapa. Berbeda sedikit dengan suasana sekarang yang tingkat pendapatan agak sedikit meningkat, walau untuk melihat anaknya kuliah, juga harus mengirit sedemikian rupa.

Tidak saja soal materi, sejumlah hal lain dialami. Seorang dosen keguruan, dibunuh oleh seorang mahasiswanya. Ini memberi sinyal kepada kita bahwa dalam kondisi bagaimanapun, bahkan ketika sedang bertugas, apapun bisa terjadi. Ada dua hal yang membuat dosen ini begitu penting dan benar-benar jadi pahlawan, yakni ia meninggal di kampus dan yang menjadi sebab ia dibunuh adalah terkait dengan tugas-tugas akademik. Ia dibunuh bukan karena soal pribadi atau soal keluarga. Menurut berita, faktor nilai menjadi dominan, bukan karena penulisan ilmiah, atau skripsi.

Pahlawan tanpa tanda jasa sebagaimana lagu yang ditulis Sutono, sepertinya sedang tertabal pada dosen itu –juga guru-guru lain yang menjadi korban ketika sedang bertugas. Ketika diantar ke pekuburan pun dilakukan keluarga dan dilaksanakan biasa-biasa saja. Sudah seyogianya, seharusnya, negara turut hadir untuk membesarkan hati, bukan hanya untuk mereka yang menjadi korban dan keluarganya, termasuk kampusnya, melainkan dunia akademik secara keseluruhan. Kasus ini bukan menyisakan duka bagi korban dan keluarga saja, melainkan juga semua orang yang selama ini terlibat dalam proses belajar mengajar. Ini menjadi semacam bencana bagi dunia pendidikan, yang terus berefek dan meluas. Kondisi ini di satu pihak menimbulkan kegeraman bagi banyak pihak. Sedangkan di pihak lain, berpeluang untuk dijadikan contoh bagi orang-orang yang berniat buruk.

Hal yang disebut terakhir ini, sayangnya sudah berkembang secara negatif melalui sejumlah meme. Masalah yang berkembang dan menjadi meme di kalangan perguruan tinggi, yakni terkait penulisan skripsi dan tesis, dengan menjadikan kasus pembunuhan dosen sebagai catatan, justru sangat tidak baik. Kasus ini dijadikan meme, menurut saya sangat menyedihkan. Kasus pembunuhan dosen di kampus tersebut, sudah dijadikan bahan olok-olok tentang bagaimana interaksi pembimbingan karya ilmiah oleh dosen kepada mahasiswa. Hal ini seharusnya tidak dilakukan, mengingat dalam hubungan akademik, jangan sampai berpengaruh kepada proses yang lebih luas.

Salah satu contoh dialog adalah pertanyaan mahasiswa mengenai bagaimana karya tulisnya sudah dinilai oleh pembimbingnya. Hasil bimbingan yang mengharuskan mahasiswa memperbaiki, lalu dijawab mahasiswa dengan pertanyaan sudah pernah mendengar kasus Medan atau belum. Pertanyaan terakhir, adalah bahasa halus tentang ancaman, atau semacam kabar kemungkinan akan terjadinya hal serupa –terkait penulisan karya ilmiah. Meme terakhir yang berkembang, adalah jawaban pembimbing mengenai adanya ilmu kebal, atau bahkan pembimbing yang juga bisa memegang clurit untuk merobek-robek perut orang lain.

Tentu hal ini berkembang sedemikian rupa dengan maksud yang beragam. Bagi sebagian kalangan, hal ini tidak lebih dari sekedar bahan tertawaan. Sayangnya bahan tertawaan semacam ini justru tidak baik bagi dunia pendidikan. Bahan semacam ini justru akan memberi efek sangat buruk.

Saya tidak ingin melanjutkannya lebih jauh. Besar harapan bahan-bahan tertawaan ini harus segera dihentikan. Dosen atau siapapun yang menjadi korban dan yang diperlakukan semacam itu harus menjadi bahan renungan bagi dunia pendidikan kita. Betapa mereka yang mengajar tidak selalu terjamin keamanannya. Sebagaimana balasan syahid untuk mereka yang mencerdaskan bangsa, maka siapapun harus tetap berkomitmen melaksanakan tugasnya secara sempurna.

Generasi hebat sudah seharusnya meninggalkan meme yang tidak bagus. Kondisi buruk sudah seharusnya tidak menjadi bahan tertawaan, melainkan jadi bahan introspeksi untuk mempertanyakan ada kekurangan apa dalam mempersiapkan generasi hebat kita.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment