Ziarah Bencana

Seminggu ini, beredar satu foto: Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sedang makan di salah satu warung di Bireuen, sambil menghisap cerutu. Banyak komentar terkait dengan ini. Banyak pula yang membanding-bandingkan dengan tokoh publik yang …

Seminggu ini, beredar satu foto: Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sedang makan di salah satu warung di Bireuen, sambil menghisap cerutu. Banyak komentar terkait dengan ini. Banyak pula yang membanding-bandingkan dengan tokoh publik yang lain. Setelah bencana, banyak tokoh publik yang hadir ke Aceh. Ada yang berusaha sampai hingga titik terdalam. Namun sebagian, hanya berhenti pada tempat yang terjangkau saja. Ada yang ingin berbagi perasaan dan emosional –hadirnya sebagai bentuk dari empati dan simpati bagi korban yang sedang menderita. Tidak sedikit, di luar itu, ada yang datang hanya untuk foto-foto saja. Mereka yang ingin mendapatkan konten, dari lokasi bencana. Datang bawa satu sak beras, tetapi minta korban foto dengan berbagai gaya.

Sama sekali bukan pada soal jumlah. Siapa pun yang datang, harus disambut dengan baik. Apa saja yang dibawa, selalu harus dianggap sebagai usaha untuk mengurangi beban dari para korban. Mereka yang serius ke lokasi bencana, pasti memahami bahwa sumbangan apa pun, tidak boleh merendahkan penerima. Jangan sampai bantuan yang diberikan kepada korban bencana –dimana pun  atau kapan pun—berpotensi untuk merendahkan manusia sebagai korban. Hal yang tidak boleh. Para relawan, saya kira tahu betul kondisi dan etik ini. Makanya relawan itu, sangat menjaga tindak-tanduknya ketika berada di lokasi. Berbeda dengan yang bukan relawan, yang berkunjung hanya ingin mendapatkan beberapa tampilan.

Ada menteri yang berkategori seperti rombongan yang datang untuk sekadarnya saja. Bahkan di lokasi bencana lainnya, ada anggota dewan yang diolok-olok, karena ke lokasi bencana memakai baju antipeluru. Lebay banget. Ini persis seperti tentara atau polisi yang nenteng senjata serbu di lokasi bencana dan dalam keadaan damai. Foto-foto yang beredar bisa saja konteksnya berbeda dengan yang ditangkap orang lain. Saya kira termasuk foto menteri.

Saya tidak tahu persis bagaimana foto ini beredar. Padahal, makan siang yang enak itu, pasti hanya orang-orang dekat. Walau ada orang-orang dalam lingkaran kekuasaan, dapat dipastikan itu orang-orang yang berada di ring satu. Salah satu yang berada di lokasi, mungkin mengambil foto, dan awalnya hanya untuk dokumen biasa. Foto yang begitu, sebenarnya bukan sesuatu, ketika terjadi di wilayah privat. Masalahnya, Zulkifli Hasan adalah tokoh publik, pejabat, yang baru saja mengunjungi lokasi bencana. Sedangkan para korban tidak seenak pada makanan yang ada di depan menteri.

Dalam banyak kunjungan, bisa saja seorang menteri tidak berhenti pada satu tujuan. Selain mengunjungi korban bencana, bisa saja mereka punya agenda yang lain, termasuk agenda partai, atau lainnya. Makanya setelah acara utama, berkemungkinan mereka akan hadir pada acara kedua, ketiga, dan seterusnya. Jika menteri memberi sambutan untuk semua acara, mudah-mudahan tidak kontradiksi substansinya dari kata-kata sebagai sambutan acara yang satu dengan acara lainnya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment