Secara keilmuan, ada pembahasan mengenai ideologi dan paham, khususnya untuk membahas antroposentris. Selalu ada konsep yang berkembang dan adakalnya diperdebatkan. Secara konsep, bahasan tentang apa yang disebut ideologi antroposentris adalah pandangan filosofis yang menempatkan manusia sebagai pusat dalam alam semesta. Dalam hal ini, manusia menjadi penentu dan alat ukur utama, sebagai subjek, yang berversus dengan apapun yang ada di sekitarnya yang ditempatkan sebagai subjek. Hal yang paling dominan beroperasi adalah dalam hal sumber daya manusia. Pandangan ini memosisikan manusia sebagai pusat dalam melakukan apapun, sehingga dalam mengukur apa yang baik atau apa yang buruk dilihat berdasarkan kepentingan manusia semata. Lebih jauh, sumber daya alam hanya dilihat sebagai objek –yang diposisikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia semata. Pandangan seperti ini yang mendorong eksploitasi sumber daya alam dengan suka-suka dan kerap tidak terkendali. Dampaknya pada kerusakan ekologis.
Berangkat dari filsuf lingkungan, pemikir utama dari antroposentrisme adalah John Passmore –ia berangkat dari konsep tanggung jawab manusia terhadap alam. Karyanya yang paling terkenal, A Hundred Years of Philosophy (Penguin Books, 1957) menjelaskan tentang perkembangan filsafat modern dan terkait dengan etika dan filsafat lingkungan. More menjelaskan tentang kebutuhan mendesak untuk mengubah sikap terhadap lingkungan. Ia melihat konteks antroposentris secara berbeda. Menurutnya, manusia tidak dapat mengeksploitasi tanpa batas, namun tidak seperti yang dipandang para deep ecology yang dianggapnya lebih mistis. Makanya ia yakin bahwa menilai alam berdasarkan kontribusinya justru bagi kesejahteraan manusia, bukan dengan memberikan nilai intrinsik pada alam. Ia menuliskan sejumlah pandangan tersebut dalam buku yang lain, Man’s Responsibility for Nature (Durkworth, 1974). Pandangannya adalah manusia harus mengelola alam secara bertanggung jawab melalui inovasi, menghargainya secara instrumental untuk makhluk hidup (Mary, 1975).
Pandangan awal tentang antroposentris, saya mendapatkan dari buku Etika Lingkungan, yang ditulis A. Sonny Keraf. Manusia dianggap memiliki posisi istimewa ketimbang makhluk lain –dalam hal kepentingan sumber daya alam. Secara otoritatif, alam dan spesies lain sangat tergantung dari bagaimana manfaatnya bagi manusia, bukan karena nilai intrinsiknya sendiri. Buku Etika Lingkungan A. Sonny Keraf menyebut nilai instrumental. Yang dimaksud nilai intrinsik dalam konteks ini, yang disebut nilai hakiki yang melekat berdasarkan karakteristik internalnya, bukan karena faktor lain. Pandangan ini berimplikasi pada dorongan pemanfaatan sumber daya alam secara besar-besaran untuk keuntungan manusia –yang lebih dominan hanya pada pendapatan ekonomi. Konservasi terhadap sumber daya alam tetap dilakukan, tetapi merujuk pada cara pandang ini, konservasi dilakukan karena manfaatnya bagi kesejahteraan manusia. Bukan untuk kepentingan alam juga.
Pada ahli meyakini krisis ekologi yang terjadi, yang pada dataran nilai mengabaikan keterbatasan alam dan kebutuhan ekosistem, disebabkan oleh cara pandang manusia terhadap sumber daya alam. Sehingga pandangan ini sendiri dilawan oleh cara pandang yang lain terhadap lingkungan, yakni biosentrisme (yang menekankan nilai kehidupan pada semua makhluk hidup, bukan hanya manusia). Biosentrisme sendiri, dilengkapi oleh cara pandang ekosentrisme yang memperluas makna dalam konteks seluruh komunitas ekologis. Pandangan ini menitikberatkan pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Namun terlepas bagaimana pandangan antroposentris yang dianggap memberi peluang bagi potensi kerusakan alam, justru bagaimana masing-masing filsuf dalam melihat suatu konsep, juga sangat penting menjadi bahan kajian generasi kemudian.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.