Ibadah Pun Butuh Rencana

Saya menggunakan kata “Puasa” –untuk menyebutkan Ramadhan atau Ramadan dalam kata bakunya—karena dalam masyarakat Aceh, lebih sering menyebut Puasa untuk bulan ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Ramadan” (atau kata tidak baku “Ramadhan”, dimaksudkan …

Saya menggunakan kata “Puasa” –untuk menyebutkan Ramadhan atau Ramadan dalam kata bakunya—karena dalam masyarakat Aceh, lebih sering menyebut Puasa untuk bulan ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Ramadan” (atau kata tidak baku “Ramadhan”, dimaksudkan sebagai bulan kesembilan tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam yang sudah akil baligh diwajibkan berpuasa. Sementara kata puasa, secara etimologi berarti pantangan, penahanan nafsu, minum dan makan dengan sengaja. Ada dua makna dalam kamus, yakni (1) meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan); (2) salah satu rukum Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum.

Penggunaan kata ini sendiri, jika melihat di media, juga berbeda. Misalnya Harian Serambi Indonesia, yang biasanya konsisten menjaga kata baku digunakan dalam setiap isi berita, ternyata untuk kata “Ramadan”, media ini menulis dengan kata “Ramadhan”. Dari seorang redaktur saya pernah dengar, Serambi pernah diprotes publik –termasuk kampus—terkait penggunaan kata baku. Ternyata yang protes, tidak memahami kata-kata baku dari KBBI. Akhirnya, Serambi membuka diri menggunakan sejumlah kata yang tidak baku. Serambi dapat penghargaan perawat bahasa karena konsistensi tersebut.

Jadi begitulah saya menggunakan kata Puasa ketimbang Ramadan, boleh disebut bagian dari memuaskan rasa publik pembaca saja –walau pembaca tulisan saya ini tidak seberapa jumlahnya.

Momentum puasa harus dimanfaatkan secara maksimal. Pertanyaan dengan kata apa, mengapa, dan bagaimana, harus selalu muncul dalam pelaksanaan ibadah Puasa ini dan ibadah lainnya. Dan semua pertanyaan akan membutuhkan jawaban masing-masing yang berbeda antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lain. Pertanyaan dengan menggunakan kata-kata itu, baik oleh mereka yang menanyakan maupun orang yang ditanya, pasti akan memahami seperti apa jawaban yang dibutuhkan. Sadar atau tidak, mereka yang memberi jawaban akan mengungkap secara lebih dalam. Sama seperti dalam konteks Puasa.

Suatu pertanyaan yang ingin menjawab sebatas apa, maka potretnya sebatas apa yang dilihat. Mengapa, sudah ada rasionalisasi alasan di balik apa yang dilihat itu. Sudah lebih mendalam. Sesuatu yang dilakukan, tidak hanya sebatas pada mengambarkan apa sesuatu itu, melainkan sudah menjangkau lebih jauh, mengapa sesuatu itu dilakukan. Jadi apapun ketika ditanya dengan kata mengapa, selalu membutuhkan jawaban lebih mendalam dibandingkan dengan kata apa. Soal apakah pertanyaan dengan kata “apa” lebih penting dari “mengapa”, saya kira menjadi konteks lainnya.

Atas dasar itulah, tentu sangat berat menjawab mengapa seseorang itu harus bahagia terhadap sesuatu yang kita tunggu. Momentum tertentu yang ditunggu dengan rasa senang dan bahagia, maka proses menunggunya juga akan terasa berbeda. Menanti seseorang akan hadir di rumah kita secara khusus, maka orang yang menunggu itu akan memiliki sesuatu yang sulit dibahasakan. Rumit saat diungkapkan dengan kata-kata. Bisa dibayangkan sesuatu yang ditunggu itu diganjar dengan sesuatu yang sungguh luar biasa. Tidak mudah mengungkap rasa dari proses ini.

Begitulah adanya.

Sebelum datangnya hari 1 Puasa ini –yang berdasarkan pertemuan banyak pihak dan pemerintah selain organisasi Muhammadiyah yang sudah memutuskan mulai Puasa sehari sebelumnya—memutuskan bahwa sejak malam kemarin sudah mulai masuk bulan Puasa —ada garansi bahwa orang yang bahagia karena kedatangannya akan jauh dari api neraka. Bayangkan, berbahagia saja, sudah begitu jatahnya. Konon lagi ketika benar-benar tiba waktunya, setiap orang bertekad akan menyambutnya dengan mengisi setiap detik dengan ibadah. Ruang waktu inilah kita bisa melakukan berbagai ragam aktivitas yang bernilai ibadah di bulan ini.

Orang yang dari segi kesehatan membutuhkan istirahat organ tubuhnya, maka bulan ini juga sangat tepat waktunya. Dengan puasa yang secara benar, akan berimplikasi kepada kesehatan masing-masing kita. Banyak orang di dunia yang sudah menggeluti puasa sebagai jalan keluar sehat untuk mengontrol diri dari berbagai gangguan kesehatan. Ada satu panduan makan dalam agama yang sering kita dengar, bahwa berhenti makan itu tidak mesti setelah kenyang –kita harus belajar untuk berhenti makan sebelum kenyang, dan memulai makan sebelum lapar. Ternyata antara lapar dan kenyang pun, ketika dikontrol oleh yang melakukannya (manusia), maka ia sesuatu yang terkendali. Implikasinya tentu saja bagi kondisi tubuh.

Untuk tidak terlalu jauh, kembali ke soal mengapa, alasan di atas sudah bisa menjawab sekilas. Tentu ada banyak alasan lain yang mendalam, yang secara fisik bisa ditandai dengan pola-pola biasa. Di tempat tertentu, seperti tempat kita, misalnya, sehari sebelum puasa, ada tradisi makan daging –maksudnya makan nasi dengan lauk daging yang disediakan secara khusus.

Dalam masyarakat kita, tidak banyak momentum orang memakan daging. Hanya sejumlah momentum saja yang memungkinkan makan daging secara massal. Salah satu yang sudah saya tulis dalam web, adalah meugang.

Memang orang yang mampu, kapan saja bisa makan daging. Mereka tinggal ke pasar daging, keluarkan dompet, lalu bisa membawa pulang. Banyak orang yang tidak begitu. Berbeda dengan orang berduit, ada orang yang menunggu berbulan-bulan atau bertahun datangnya momentum makan daging. Minimal mereka akan memotong ayam atau bebek yang dipelihara dalam waktu berbulan sebelumnya. Hal ini bisa saja terlalu sederhana bagi mereka yang makan tiap hari.

Banyak orang yang sengaja memelihara ayam dan bebek, tetapi bukan untuk dijual, melainkan untuk digunakan pada momentum Puasa ini. Suatu persiapan yang luar biasa bersemangatnya. Selain makan daging pada hari sebelum puasa, daging juga digunakan untuk makan bersama dalam rangka merayakan hari lahir Nabi. Lantas, apakah sama nilainya orang yang tinggal ke pasar daging, beli bertumpuk-tumpuk dan bawa pulang untuk dimasak, dengan mereka yang mendapatkan daging dari hasil peliharaannya sendiri? Tentu tidak sama.

Potret tersebut mungkin terlalu sederhana sekiranya dimaksudkan untuk menjawab soal di atas secara utuh. Apalagi dengan contoh lain, di kampung saya ada banyak tradisi yang hidup menyala di bulan penuh rahmat ini. Tidak ada di bulan yang lain, sebulan penuh di meunasah (musalla) tersedia bubur kanji –istilah yang disebut terakhir berbeda maksudnya dengan kata kanji yang lain. Bubur kanji ini dibuat dari beras dan santan dengan berbagai rempah di dalamnya. Sesekali, ketika ada orang yang menyumbang, ditambah daging ayam atau bebek. Sebenarnya bubur ini tersedia di tempat tertentu, di bulan yang lain. Di beberapa tempat di kota selalu ada, dengan menu yang terukur. Ketika orang merasa rindu dengan bubur ini, masing-masing akan membuat sendiri. Namun itu berbeda, ketika bisa antre untuk mendapatkan bagian secara gratis, dengan berbekal tempat yang terbuat dari bambu. Dan kanji itu, sadarilah, selalu berbeda dengan yang tersedia di pasar.

Sebagaimana bagian aktivitas yang lain, orang-orang yang menunggu even penting seperti puasa, tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata. Orang-orang yang memahami betapa besar hikmah dan ganjaran dalam bulan ini, akan menungguinya dengan penuh rasa rindu. Menunggu akan diikuti dengan berbagai persiapan agar berhasil melakoni dan menjemput berbagai hikmah yang tersedia di dalamnya. Orang-orang yang tidak mempersiapkan diri, diragukan ia sedang merindui.

Pertanyaan kemudian sedikit bergeser, tidak semata soal mengapa orang harus bahagia, melainkan apa yang kemudian dilakukan oleh orang-orang yang merasa harus bahagia tersebut. Apakah kita akan berhenti hanya dengan merasa bahagia saja? Tentu saja tidak. Momentum inilah, menjadi saat berharga bagi kita untuk mencapai lebih jauh dalam memaknai bulan Puasa –bulan yang dijanjikan ampunan oleh Allah bagi siapa yang melaksanakannya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment