Berangkat dari Keikhlasan

Malam ketiga Puasa, semalam, saya tetap menunaikan shalat wajib isya, shalat sunat tarawih dan witirnya di masjid gampong. Kelebihan di masjid ini, sesama warga bisa saling silaturahim. Tidak setiap waktu berjumpa dengan warga lain, karena …

Malam ketiga Puasa, semalam, saya tetap menunaikan shalat wajib isya, shalat sunat tarawih dan witirnya di masjid gampong. Kelebihan di masjid ini, sesama warga bisa saling silaturahim. Tidak setiap waktu berjumpa dengan warga lain, karena ada berbagai aktivitas masing-masing, walau tinggal di gampong yang sama.

Soal posisi kata “shalat” di atas, saya juga penting harus menjelaskan bahwa kata bakunya sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “salat”. Sedangkan kata tidak baku, ada “solat”, “shalat”, atau “sholat”. Kata “salat” sama dengan kata “sembahyang”. Salat bermakna: (1) rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah Swt., wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam; (2) doa kepada Allah.

Pengalaman dari masjid ini, jamaahnya tidak berbagi waktu antara yang salat tarawih delapan dan 20 rakaat. Soal jumlah rakaat tarawih, tidak ada pengumuman apapun yang disampaikan oleh pantia masjid. Memang pada saat ceramah keusyik malam pertama, menyinggung harapan agar semua jamaah menyelesaikan tarawih hingga 20 rakaat. Masalahnya, selain soal pemahaman dan kenyaman ibadah, ada juga yang punya kepentingan lain, sehingga memilih menyelesaikan tarawih pada jumlah delapan.

Saya mendapat sejumlah pengalaman jumlah rakaat, di beberapa masjid Puasa yang lalu. Misalnya, dulu, saat kami tinggal di Ajun, pengalaman pembagian shalat antara 8 dan 20, ditentukan dari awal. Namun selama ini, masjid juga berlaku sama seperti masjid tempat tinggal saya sekarang ini.

Jumlah yang memperlakukan seperti itu, rasanya hanya sejumlah masjid saja. Tahun lalu, yang berbagi seperti yang di Masjid Lampineung, barang kali bisa dihitung jari. Semua yang salat tetap dihormati, asal tidak menyentuh perdebatan tentang mengapa jumlah itu dipilih.

Dalam ruang kajian, ada sejumlah tokoh agama, terang-terang menyebut tarawih delapan rakaat tidak ada dasarnya. Memang ada masjid yang khusus salat tarawih delapan rakaat. Dengan dasar yang diyakini. Saya tidak punya ilmu masuk ke soal substansi itu.

Saya memotret, di masjid yang tidak berbagi, salat 20 rakaat, dan biasanya jamaah yang hanya salat delapan, akan mundur ke belakang ketika salat keempat sudah dilakukan. Untuk witir, dikerjakan masing-masing.

Bagaimana pun pelaksanaan ibadah selama bulan Puasa, selalu beriring dengan rasa bahagia bagi mereka pelaksananya. Bukankah kita harus bisa merasakan bahagia itu saat mulai menyambut puasa sejak hari pertama?

Pertanyaannya adalah bagaimana rasa bahagia itu ingin kita gambarkan? Ketika datangnya bulan Puasa, jika kita mengaku bahwa itu merupakan tamu agung, maka apa saja yang sering kita lakukan?

Orang yang yang merasa demikian, sungguh membuat hatinya berbunga-bunga dan sumringah bahagia. Sesuatu yang dirindui, sejak berbulan sebelumnya tiada henti berdoa dan penuh harap akan menjumpai tamu agung ini. Persis ibarat menunggu sesuatu yang sangat penting, tidak saja menunggu saja, melainkan kita melakukan berbagai persiapan dalam penantian yang dirindui demikian.

Apakah dulu orang-orang yang menunggu bulan Puasa melakukan persiapan-persiapan penting dalam hidupnya?

Seyogianya, kalau bulan Puasa dianggap penting, maka berbagai persiapan akan dilakukan. Sesuatu yang membuat Puasa lebih terasa dan menyemangati beribadah pada bulan ini, semua akan dilakukan persiapan secara bersahaja.

Lalu pertanyaannya, apakah ada yang tidak merindui?

Nah jika pertanyaan ini, jangan tanya. Dalam kehidupan, dalam berbagai hal, tidak semua orang mengikuti. Kepada kita biasanya dihamparkan dua pilihan, jalan baik dan jalan sebaliknya, maka tidak semua orang akan memilih jalan baik, walau disadari sepenuhnya bahwa memiliki jalan yang tidak baik itu berimplikasi sangat buruk bagi kehidupannya.

Layaknya sesuatu yang dianggap penting akan datang, bagi yang merasa demikian, akan dipersiapkan dengan luar biasa. Kita bisa berkaca apa yang akan kita lakukan ketika mau bertemu dengan orang-orang yang sangat penting dalam hidup kita. Tentu dipersiapkan serius. Dalam berbagai aspek. Tidak hanya sebatas pakaian. Orang yang sedang menghadapi hal demikian, juga akan mempersiapkan berbagai hal lain, seperti mengatur berbagai persiapan, kendaraan yang dipakai, bahkan wewangian yang akan dipadukan dengan persiapan itu. Apalagi jika yang ingin ditemui itu sebagai sesuatu yang lebih penting dari itu.

Maka tak bisa dibayangkan, jika ada orang yang merasa akan menerima tamu agung, justru melakukan persiapan yang biasa-biasa saja. Persiapan yang dilakukan akan memberikan gambaran utuh mengenai bagaimana sesungguhnya perasaan kita terhadap yang kita tunggu. Kita boleh saja berucap bahwa kita rindu, namun ternyata tidak terlihat dalam persiapan konkrit kita untuk itu, maka apakah itu sepadan dengan rasa rindu demikian? Sepertinya patut dipertanyakan. Sebaliknya, mereka yang melakukan persiapan luar biasa, tidak perlu memberi tahu ke semua penjuru, karena orang yang lihat pasti merasakan akan persiapan orang tersebut. Dengan demikian, akan diketahui bahwa merekalah perindu yang sesungguhnya.

Porsi apa saja yang kita sediakan untuk menjalani waktu yang agung ini? Jangan-jangan kita justru tidak mencoba merencanakan apapun. Jangankan untuk menulis secara ketat, bahkan mengingat saja tidak. Tipe begini tidak bersemangat untuk digolongkan dalam tipe yang merindui. Berbeda dengan mereka yang rindu. Mereka sudah mencatat ketat apa yang akan dilakukan selama sebulan penuh. Hal apa saja yang mesti diselesaikan, apa yang akan dilakukan, agenda kemana saja akan didatangi. Semua sudah disusun sedemikian rupa, dan untuk menyusun ini sendiri butuh energi, inilah yang bisa disebut mempersiapkan diri.

Orang yang sudah mencatat, dalam perjalanan selalu bisa mengoreksi apa saja yang bisa dilakukan. Untuk hal yang tidak bisa diwujudkan, akan dicari tahu dimana masalahnya, sehingga apapun bisa diselesaikan. Dengan begitu, apa yang direncanakan akan berjalan sebagaimana mestinya.

Jadi siapapun yang bercerita dengan adanya kerinduan, harus kita lihat sejauh mana yang bersangkutan berusaha menggapai tekad dalam implementasi aktivitasnya tersebut. Implementasi itu sendiri, akan lebih rapi jika disiapkan dalam sebuah rencana yang matang, bukan diawang-awang. Orang yang mempersiapkan beginilah, walau tidak diucap, kita akan tahu bahwa mereka benar-benar sedang merindu.

Orang-orang yang beribadah —setidaknya sudah sampai pada malam ketiga Puasa ini, menggambarkan betapa mereka bahagia melaksanakannya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment