Suatu kali, saat saya ke pasar pagi, saya menyempatkan diri mengamati kucing. Jauh pasar dari rumah saya sekitar tiga km. Lokasi ini, boleh dibilang sebagai ruang interaksi paling terbuka. Sebuah pasar, apalagi pasar tradisional, di samping menyediakan banyak pilihan di satu tempat. Di pasar juga, dalam satu tempat itu tersedia berbagai sub pasar yang menyediakan ikan, sayur-sayuran, maupun buah-buahan.
Di pasar –terutama pasar ikan, enaknya bisa langsung meminta dibersihkan. Jadi yang dibawa pulang ke rumah tok daging ikan. Selebihnya, yang tidak perlu, ditinggalkan di sana. Dan itu menjadi sumber bau tidak sedap, bila tidak dibersihkan. Untuk pasar-pasar tertentu yang jarang dibersihkan, bau menyengat itu muncul dari sisa-sisa ini.
Ketika membeli ikan dan meminta dibersihkan sama penjualnya, saya melihat serombongan kucing, yang jumlahnya sekitar enam atau tujuh ekor. Mereka dilingkari oleh banyak sisa ikan. Menariknya saya melihat kucing tidak lagi menyentuh sisa ikan yang berserakan itu. Beda dengan kucing yang di rumah, ketika ikan sedang dibersihkan, kucing setia menunggu untuk dilempar jatahnya. Ada sejumlah piring kecil untuk membagi-bagi jatah. Sesekali, seandainya kita lupa, mereka bisa saja mencurinya. Jadi sejenak apapun, tidak berarti mereka tidak akan mengambil ikan yang kita tinggalkan.
Masalahnya di pasar itu tidak demikian. Mereka sudah tidak menyentuh sama sekali. Ada apa?
Iseng saya berpikir, jangan-jangan mereka sedang rapat untuk mencari makanan alternatif. Sisa ikan yang banyak, mungkin bisa diolah untuk makanan jenis lain, yang lebih nikmat untuk dikonsumsi. Iseng, saya menduga begitu. Hal lain yang saya pikir, karena sisa ikan itu pasti hanya miliki mereka: para kucing pasar. Rombongan kucing itu sebagai penguasa pasar. Mereka akan mengetahui segera seandainya sewaktu-waktu ada kucing lain yang menghampiri lokasi mereka. Tapi tunggu dulu, tidak mudah bagi kucing lain untuk masuk ke area pasar. Mereka sepertinya harus bersaing terlebih dahulu.
Sekali lagi, dugaan saya, pasar sebagai ruang interaksi manusia, juga menjadi tempat bersaingnya para kucing. Makanya jumlah mereka jarang bertambah atau berkurang. Setahun lalu atau sekarang, mungkin jumlah mereka segitu saja.
Dalam lingkaran kucing, perpindahan pola kuasa itu yang mungkin berbeda, sehingga enam atau tujuh ekor kucing di pasar, akan selalu ada di sana entah sampai kapan. Mungkin hingga ada rombongan kucing lain yang akan menggusur tempat mereka.
Pertanyaannya, apakah ketika ada rombongan lain yang menggusur, akankah mereka juga akan terus membiarkan sisa ikan itu tidak dimakan? Disentuh pun tidak? Seperti rombongan tadi? Jangan-jangan mereka juga akan berpikir untuk mendapatkan rasa sisa ikan yang lebih lezat dari biasanya. Tetapi bagaimana caranya? Entahlah.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.