Kemarin, saya mendengar lagi dari Dekan kami: soal memedulikan orang tua atau para teman-teman orang tua kita. Saya sendiri juga pernah mendapatkan pengalaman, dengan mendapat pengetahuan baru yang luar biasa, seputar orang tua –tepatnya orang yang sudah tua. Ketika mengunjungi orang tua teman yang sakit, tidak terduga, saya melihatnya sedang marah-marah kepada kedua anaknya, satu laki-laki yang umurnya seusia saya, dan satu perempuan yang mungkin baru selesai sarjana. Dua-duanya sedang di sana. Orang tuanya marah-marah karena di kamar tempatnya dirawat, banyak sekali dibawa makanan. Selain dibawa orang yang datang, ternyata anaknya yang laki-laki juga doyan membeli. Tidak salah, karena ia juga doyan makan. Masalahnya adalah ketika ada keluhan sesuatu dari orang tuanya, secepatnya ia panggil perawat atau tenaga medis di sana.
Nah ketika saya tiba, ia sedang marah. Setelah saya duduk, saya ngobrol tentang sakitnya yang ternyata sederhana, ia merasa tulang paha sudah tidak kuat untuk menahannya ketika sedang jalan.
Awalnya saya cerita tentang usia, bahwa usianya yang senja, tidak mungkin masih kuat semuanya. Ada proses yang berubah. Sudah menikmati masa muda yang lama, lalu ada yang terkurangi di masa tua, sesungguhnya adalah hal yang biasa.
Lalu ia bercerita. Saya mendengarnya. Tidak membantah sama sekali. Saya sendiri –setelah sekian lama—mendengarnya berbicara, tidak tahu persis apa isinya. Saya mendengar saja dengan khitmad. Kelihatan ia sudah agak payah dalam berbicara panjang lebar. Namun ada yang mendengarkan ceritanya, membuat ia sangat bersemangat.
Hampir dua jam saya di sana, sesampai di luar teman saya menanyakan apa yang kami bicarakan. Tetapi ia tertawa lepas saat saya ungkap bahwa saya sendiri tidak tahu persis apa yang kami bicarakan.
Orang tua lainnya saya jumpai saat menghadiri maulid di satu kampung. Ia duduk di pinggir pagar dan meminta ijin untuk masuk dalam rombongan. Masalahnya tidak ada yang mendengar permintaannya. Ketika rombongan kami datang, ia berbicara –dan persis dekat dengan saya. Tanpa meminta persetujuan pimpinan rombongan, saya pegang tangannya. Ia mendapat satu porsi. Tetapi kami sampai terlambat membungkus makanan karena mendengar ceritanya yang sangat bersemangat.
Di satu kampung lain, kenalan almarhum orang tua saya, yang saya kunjungi, bersemangat luar biasa dalam bercerita ketika saya juga mendengarnya. Ia seperti merasa belum sepuh. Apa yang diomongkan, persis omongan anak muda. Saya mampir habis ashar, hingga menjelang magrib tidak putus-putus ceritanya.
Saya tidak tahu secara medis. Namun semangat, ternyata bisa bergelora ketika kita menyediakan waktu untuk mendengar ceritanya. Seringkali kita menganggap bahwa usianya yang sudah tua, berhadapan dengan banyaknya keluhan. Dari tiga orang itu, saya tidak mendengar keluhan. Justru mungkin keluhannya adalah karena tidak ada yang mendengarkan ketika ia bercerita.
Saya tidak tahu, apakah memang persis begitu?
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.