Kemarin, sesaat setelah acara pengukuhan profesor saya, lahir satu tulisan dari salah seorang guru, Prof Dr dr Rajudin SpOG(K) Subsp FER, guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Saat ini, Rajudin menjabat juga sebagai Ketua Ikatan Alumni Universitas Diponegoro –tempat dimana saya menyelesaikan magister dan doktoral. Satu jabatan penting lainnya dari beliau sebagai Sekretaris Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Aceh. Tulisan ini termasuk cepat diselesaikan. Karena beliau juga ikut acara pengukuhan, bisa jadi selama duduk mengikuti sesi per sesi, tulisan ini diselesaikan. Bagi saya, jelas dengan cepat menulis catatan ini diselesaikan. Link tulisan dapat dilihat https://aceh.tribunnews.com/opini/1029056/sulaiman-tripa-dari-pantee-raja-ke-mimbar-profesor
Serambi Indonesia memiliki satu kolom yang namanya Kupi Beungoh. Dari salah seorang jurnalis, saya memahami ruang ini berisi tulisan, pikiran, opini, dari siapa saja terkait dengan berbagai hal, namun online. Berbeda dengan opini cetak yang bisa dibaca dalam halaman cetaknya. Dalam ruang ini, banyak profesor menulis dan aktif. Dengan ruang online, maka jumlah tulisan yang naik pun beragam dan tidak tunggal sebagaimana edisi cetak. Dalam kolom inilah, tulisan tentang saya itu dituliskan oleh Profesor Rajudin.
Beliau mengulas dalam tulisan ini, setidaknya empat hal yang didengar dari proses pengukuhan saya sebagai profesor. Pertama, tentang profil saya yang secara khusus ditampilkan terkait kebiasaan saya melakukan peluncuran buku setiap ulang tahun. Jumlah buku yang diluncurkan bisa satu atau beberapa. Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 2005. Menurut beliau, kebiasaan ini sangat khas dan tidak dimiliki orang lain.
Kedua, posisi saya yang menulis opini sejak mahasiswa, juga tidak dimiliki banyak orang. Hal yang beliau sorot adalah semangat untuk menulis yang sudah dimulai jauh sebelum menjadi akademisi. Biasanya mahasiswa, walau kritis, tidak semua mampu mewujudkannya dalam media tulis. Apalagi waktu itu, ruang opini media sangat sulit ditembus. Hanya orang-orang tertentu saja yang secara kompetitif bisa muncul dan berhasil melewati proses penilaian redaksi yang sangat ketat.
Ketiga, agak penting pula ketika pilihan untuk memilih jalur literasi dii tengah derasnya arus informasi dan semakin singkatnya rentang perhatian masyarakat terhadap bacaan panjang. Ternyata, menurut beliau, masih ada segelintir orang yang memilih bertahan dalam sunyi dunia literasi. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi juga menulis. Tidak hanya sesekali, melainkan menjadikannya jalan hidup.
Keempat, tentang capaian guru besar yang diklaim banyak orang sebagai titik akhir, justru ia sebagai titik awal kompetitif. Hal ini melihat dalam pengalaman menulis buku setiap tahun.
Bagi saya, catatan ini terang saja bisa menambah semangat. Apa yang kita lakukan, nyatanya ada yang memberi apresiasi dan mencatatnya dalam bentuk yang lain.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.