Bahan Ajar: Jalan Publikasi Ilmiah

Apa yang disebut indeksasi sangat penting dalam karya ilmiah. Istilah indeks ini akan saja jelaskan secara khusus. Secara global, reputasi sebuah karya ilmiah ditentukan dengan baik oleh posisi indeks tersebut. Hal yang sama dikembangkan banyak …

Apa yang disebut indeksasi sangat penting dalam karya ilmiah. Istilah indeks ini akan saja jelaskan secara khusus. Secara global, reputasi sebuah karya ilmiah ditentukan dengan baik oleh posisi indeks tersebut. Hal yang sama dikembangkan banyak negara, termasuk di negara kita. Mengapa dilakukan? Alasan paling sederhana, terkait dengan semangat kompetitif yang ujungnya akan menentukan posisi atau rangking kampus dalam ranah global atau nasional.

Ada kampus tertentu di dunia, lalu menyiasati dengan menyewa orang-orang “produktif” dalam rangka mendongkrak posisi kampusnya tersebut. Orang yang akan dipekerjakan di tempatnya, akan dibayar mahal, dengan target misalnya dalam setahun bisa menyelesaikan sekian artikel maupun buku dengan tingkat reputasi indeks yang mapan. Para penulis itu, tentu saja dengan menyertakan identitas sebagai bagian dari universitas yang bersangkutan.

Akumulasi produktivitas kampus, turut ditentukan oleh bagaimana produktivitas personal di dalamnya –bahkan termasuk skema membiaya orang-orang yang seperti disebutkan di atas. Kampus akan mengejar akumulasi itu. Tidak penting bahwa orang lain tahu, mereka yang sedang berada di sana, sebelumnya juga pernah berada di tempat lain. Tempat pendidikan, akhirnya bisa sepragmatis itu dalam mengejar target-target di atas.

Itulah yang terjadi, sehingga kalau suatu saat kita sebutkan bahwa karya pada dasarnya sebagai jiwanya sebuah kampus, sepertinya nyaris kehilangan konteksnya. Dulu ketika masuk ke kampus, kita diingatkan untuk melahirkan publikasi ilmiah yang baik. Disebutkan posisi setiap dosen tidak dalam kapasitas administratif, melainkan secara aktif terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui tridarma perguruan tinggi. Lalu siapa yang membantah, ternyata sekarang ini, tugas-tugas adminisstratif dalam makna buruh, sepertinya jauh lebih menghabiskan ketimbang tujuan hakiki keberadaan dosen di kampus.

Pada akhirnya, publikasi ilmiah menjadi urusan produktivitas yang sangat pragmatis. Setiap dosen harus mengejar publikasi ilmiah tertentu yang diwajibkan dalam ranah administrasi. Pada lapis yang lain, kampus menyediakan insentif untuk mereka yang bisa mencapai publikasi ilmiah dengan indeks sebagaimana yang diharapkan. Orang-orang yang memiliki banyak publikasi, ada yang tidak bisa dipastikan apakah lahir dari kerja nyatanya, atau memaksa pihak lain untuk membantunya dalam menghasilkan karya.

Dosen yang memaksa mahasiswa terlibat secara langsung dalam menyukseskan produktivitas publikasi dosennya. Bahkan ada yang mengambil karya bimbingannya untuk diklaim sebagai miliknya sebagai penulis pertama. Belum lagi muncul para predator yang menghasilkan karya tidak berasal dari daya pikir dan daya olah pikirnya. Tidak penting dari mana publikasi berasal, karena secara administratif yang dilihat atas nama siapa dan institusinya.

Proses menitip nama penulis pada publikasi orang lain, juga menjadi budaya yang seolah biasa. Tujuannya jelas untuk menaikkan produktivitas yang akhirnya akan menentukan rangking dari suatu perguruan tinggi. Pola demikian, jelas mencederai tujuan kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment