Konteks Syedara Lingka

Dalam masyarakat, apa yang disebut sebagai syedara itu maknanya juga sangat luas. Tidak hanya syedara dalam makna geneologis. Dalam masyarakat tertentu, ada syedara yang disebabkan karena bertetangga, tinggal di kampung atau Lorong tertentu, sehingga berkewajiban …

Dalam masyarakat, apa yang disebut sebagai syedara itu maknanya juga sangat luas. Tidak hanya syedara dalam makna geneologis. Dalam masyarakat tertentu, ada syedara yang disebabkan karena bertetangga, tinggal di kampung atau Lorong tertentu, sehingga berkewajiban untuk saling mengenal dan berinteraksi. Dengan konsep meusyedara yang demikian, maka ada kewajiban juga untuk saling menjaga dalam makna yang lebih dalam. Jika kita sedang berada di tempat yang tidak semestinya, lalu melihat ada seorang anak tetangga yang sedang di situ, ada kewajiban kita untuk memastikan mengapa anak itu berada di sana.

Saya memakna pageue gampong secara lebih jauh demikian. Konsep yang pada masa konflik membuat semuanya hilang bekas. Mengapa mengulang-ulang era konflik? Karena dalam waktu yang lama, masyarakat berada dalam kondisi tidak bisa berinteraksi dan bermasyarakat dengan baik. Akibatnya tidak bisa memperhatikan satu sama lain. Jika ada orang yang menderita, maka ia sendiri yang merasakan penderitaan itu disebabkan ketakutan yang ada pada orang-orang di sekelilingnya.

Saya berharap pengambil kebijakan melihat konsep yang lebih luas ketika berbicara pageue gampong. Harus dipahami lebih luas dan tidak hanya terbatas pada teritori. Bahkan apa yang disebut sebagai teritori itu tidak ada maknanya jika masyarakat dalam keadaan cuek, saling tidak peduli, bahkan nafsi-nafsi. Tidak mungkin bicara pageue gampong, kalau orang-orang yang berada di sekitar kita, tidak pernah kita bersosialisasi.

Pernah saya tulis, bahwa konsep yang demikian terkait dengan space dan place. Tidak semata soal ruang, tapi juga tempat. Teritori mudah diketahui, tetapi tanpa mendalami bagaimana proses menjaga ruang-ruang kultural, sekali lagi, teroritori menjadi tidak ada artinya.

Banyak negara modern yang memahami kekayaan kearifan dalam membangun negara mereka. Tidak mungkin negara mengontrol secara penuh tanpa keikutsertaan rasa dan semangat kebangsaan warganya. Tidak mungkin cukup sumber daya dari negara jika warga tidak mau ambil bagian dalam proyek-proyek besar menjaga bangsa.

Pageue gampong, persis seperti menjaga bangsa. Menjaga agar semua orang berada di tempat yang tempat. Semua orang saling peduli. Tidak mungkin ada orang yang mau tahu, jika tidak ada rasa peduli ini. Rasa dan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat sangat penting. Itulah yang saya wakilkan melalui konsep syedara lingka.

Hanya dengan bersyedara, memungkinkan kita berinteraksi dengan baik. Lalu orang-orang bisa bersosialisasi di dalamnya. Mereka akan punya rasa memiliki bersama. Melakukan sesuatu yang akan merugikan orang banyak, akan ditimbang-timbang berulang-ulang. Bukankah tujuan negara sekali pun, pada akhirnya juga pada titik itu. Tidak ada kampung yang berhasil dibangun dengan baik, jika tidak berhasil diberdayakan suasana harmoni di dalamnya. orang Aceh bilang, dengan hidup saling meujeut-jeut.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment