Bahan Ajar: Sisi-sisi Publikasi Ilmiah

Salah satu tanggung jawab –yang dapat dikategorikan sebagai kewajiban—bagi masyarakat akademis adalah publikasi ilmiah. Idealnya, publikasi ilmiah tidak semata ditentukan oleh adanya aktivitas lain yang menuntut luaran tertentu. Misalnya, seorang dosen yang meneliti atau mengabdi, …

Salah satu tanggung jawab –yang dapat dikategorikan sebagai kewajiban—bagi masyarakat akademis adalah publikasi ilmiah. Idealnya, publikasi ilmiah tidak semata ditentukan oleh adanya aktivitas lain yang menuntut luaran tertentu. Misalnya, seorang dosen yang meneliti atau mengabdi, mensyaratkan adanya suatu produk publikasi tertentu dari kegiatan yang dilaksanakan itu. Atau mahasiswa, selain wajib menulis tugas akhir, juga ada kewajiban tambahan berupa artikel ilmiah untuk publikasi. Dengan demikian, bagi masyarakat akademis, publikasi itu dapat disebut sebagai jantungnya dari proses.

Posisi masyarakat akademis itu sendiri penting dijelaskan. Istilah ini hanya teknis, tidak dalam makna konsep yang dipelajari, misalnya dalam Sosiologi, Antropologi, maupun dalam kajian lainnya. Secara konsep, yang disebut masyarakat, memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi, misalnya ada kumpulan orang-orang yang hidup berkelompok dan saling berinteraksi tidak berbatas waktu, di dalam suatu teritori tertentu, dan dari interaksi itu menghasilkan apa yang disebut sebagai kebudayaan (Soekanto, 2003). Dalam konteks interaksi, ada hal lain yang juga berlaku, antara lain soal bagaimana nilai dan norma di dalamnya. Dengan interaksi itu pula, merujuk pada Soekanto, suatu masyarakat juga memungkinkan mengalami perubahan.

Yang disebut sebagai masyarakat akademis adalah mereka yang berada di tempat yang khas, yakni kampus. Biasanya di dalamnya, terdiri dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Kampus atau perguruan tinggi, keberadaannya tidak lepas dari kewajiban pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, di dalamnya ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Selain masyarakat akademis, juga ada yang disebut sebagai sivitas akademika. Istilah ini merujuk pada komunitas ilmiah yang idealnya selalu mengembangkan buidaya akademik, berpikir menurut ilmu pengetahuan, maupun memiliki cara pandang yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan sivitas akademika sebagai kelompok masyarakat akademik yang terdiri atas dosen dan mahasiswa.

Seiring dengan perkembangan zaman, posisi dosen ada yang dibedakan dengan peneliti. Pada dasarnya dosen “wajib” melaksanakan penelitian sebagai dasar dalam hidup berkeilmuan. Dengan demikian, dosen itu, pada dasarnya juga sebagai peneliti –saat aktivitas itu dilakukan. Namun di luar konteks tersebut, masih dikenal ada peneliti murni yang berada di universitas, yang ditugaskan kepadanya semata meneliti –hingga melahirkan karya-karya ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan di kampusnya.

Dengan sejumlah konsep pengembangan dari setiap kampus, cara-cara dalam mencapai target tertentu, misalnya target karya ilmiah untuk tingkat tertentu, dilakukan oleh pengelola kampus. Apalagi dengan kondisi peran negara yang semakin mengecil bagi kampus-kampus tertentu, melahirkan kreativitas kampus dalam mencari sumber dana bagi pengembangan ilmu pengetahuan di kampusnya.

Hanya saja kadang-kadang proses mendapatkan sumber dana, sering melupakan konsep pendidikan yang harusnya dilakukan secara holistik. Pendidikan akhirnya dilaksanakan dengan “memudah-mudahkan”. Target secara berjenjang, tidak jarang dilakukan “manipulasi” pencapaian yang hakikatnya bisa bertolak belakang dengan tujuan ideal kampus.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment