Konteks Pageue Gampong

Pageue gampong harus dipahami secara konteks, ketimbang teks. Makna harfiah, pageue gampong menunjuk ke pagar kampung. Maksud harfiah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagai makna menurut huruf, kata demi kata; berdasarkan arti leksikal (berkaitan dengan …

Pageue gampong harus dipahami secara konteks, ketimbang teks. Makna harfiah, pageue gampong menunjuk ke pagar kampung. Maksud harfiah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagai makna menurut huruf, kata demi kata; berdasarkan arti leksikal (berkaitan dengan kata; leksem; kosakata). Dalam pengetahuan agama, makna ini dipandang sama dengan lughah (makna dalam lughah) yang berarti bahasa, ucapan, atau kata.

Makna di atas, yang menunjuk kepada kata sifat (makna literal) atau pemaknaan yang didasarkan pada definisi dasar kamus, tanpa kiasan, atau gramatikal. Atau dengan makna lain yang lebih sederhana, menerjemahkannya persis seperti tertulis. Untuk pemaknaan pageue gampong yang demikian, rasanya tidak mungkin. Namun demikian, ada tokoh masyarakat atau pejabat yang beranggapan begitu: pagar kampung.

Dalam makna harfiah, pagar kampung menunjuk pada konsep keamanan lingkungan. Polanya pun bisa sangat formal. Proses interaksi yang berlangsung bisa saja demikian prosedural. Misalnya ketika ada seseorang yang datang ke kampung lain, lebih dari 24 jam, harus melaporkan diri pada pimpinan kampung. Konsep melapor yang saya maksud, bisa prosedural dalam makna administratif. Jadi seseorang warga yang membawa tamunya ke rumah, harus datang ke rumah pimpinan kampung dengan membawa serta identitas.

Saya kira berbeda yang dimaksud dalam makna pageue gampong. Makna yang operasionalnya dalam bentuk saling menjaga –terutama secara kultural—ketika dikaitkan dengan kepentingan kehidupan kampung. Proses interaksi yang berlangsung menjadi jawaban dari kepentingan ini. Dengan pageue gampong, setiap warga wajib ikut terlibat dalam berbagai aktivitas di gampong. Pada dasarnya, semua kegiatan yang ada, sekaligus menjadi ruang sosialisasi dalam masyarakat kampung.

Selama ini, bisa saja ada yang menggugat efekitivitas aktivitas tertentu. Misalnya, kegiatan gotong royong, yang diklaim sebagai kekayaan budaya kita. Gotong royong tampak dalam aktivitas bersama-sama yang dilakukan untuk menyelesaikan kerja tertentu. Gotong royong pasti merujuk pada wujud saling tolong-menolong dan dilakukan semua orang secara sukarela. Seseorang ketika melakukan sesuatu, tidak ada pamrih yang diharapkan. Harapan tertentu, seperti akan mendapatkan upah dan semacamnya, tidak berlaku pada gotong royong. Kenapa disebut budaya kita? Karena tampak sekali kekeluargaan di dalamnya.

Jika ikut dalam gotong royong, bisa saja aktivitas yang mau diselesaikan tidak efektif seperti secara professional diserahkan kepada pekerja tertentu. Hal yang harus dipahami bahwa tujuan dari gotong royong tidak semata soal kerja, melainkan juga soal sosialisasi, saling bertemu, dan saling mengenal. Dengan demikian, ada rasa sebagai sesama saudara yang membuat tujuan harmoni di kampung mudah tercapai.

Dalam makna itulah, saya pahami pageue gampong. Ketika ada orang asing yang singgah di kampung, selalu ada interaksi untuk membantunya bisa jadi akan berkunjung ke rumah siapa. Berbagai proses akan menuntut seseorang lebih jauh untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam kehidupan kampung.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment