Ada perbedaan besar kondisi pegawai masa lalu dengan masa sekarang –apalagi era otonomi daerah—yang pendapatannya terlanjur lebih besar dihabiskan untuk anggaran rutin dibanding kepentingan pembangunan yang lain. Saya kira anggaran rutin juga harus dilihat dalam makna pembangunan. Hanya saja menjadi catatan, kebutuhan publik yang lain, harusnya mendapat porsi lebih besar dari anggaran rutin ini.
Saya mendapat banyak pengalaman dari teman yang pegawai, sudah mendapatkan pendapatan jauh dari yang dibayangkan. Jika dulu banyak orang berpikir-pikir untuk menjadi pegawai. Sekarang, kondisinya sudah berbeda. Dengan pendapatan yang banyak dan item yang beragam. Untuk yang diterima, biasanya ada beberapa waktu dan item tertentu, sebagai pegawai mendapatkannya. Namun sangat sedikit orang yang menanyakan uang apa yang diterima itu. Seandainya pun ada yang tanya, orang-orang akan marah dan mencibir, takut-takut akan dibatalkan pemberian tersebut.
Uang tersebut ada yang memang berasal dari jerih, ada juga yang diberikan berkaitan dengan momentum tertentu. Ketika mau hajatan tertentu, diberikan. Malah kalau tidak diberikan, justru seperti ada yang aneh. Ketika tidak ada anggaran, akan dikatakan kepada pimpinan mereka kurang kreatif. Ketika menggunakan uang –minus pemberian, akan dikritik habis-habisan.
Dengan alasan demikian, saya kira masuk akal. Saya tidak ingin mengomentari bagaimana proses dana tunjangan. Menarik bagi saya melihat bagaimana keterpaduan antara berbagai bidang belum berjalan. Bidang pendidikan dengan bidang pembayaran tunjangan, seperti tidak ada komunikasi. Seharusnya ada terbangun pola kerja yang dipahami secara bersama, agar langkah apapun yang dilakukan, tidak memberikan implikasi tertentu pada masa mendatang.
Sekiranya ada kasus mengambil yang bukan haknya, penting sekali untuk merenung sejenak, untuk apa semua itu. Saya harus selalu ingat semangat mereka yang mengabdi pada masa lalu. Ada yang berpuluh tahun mengabdi di tempat lain dengan meninggalkan kampung. Hanya untuk mengabdi, dengan pendapatan yang bisa dihitung. Betapa kecilnya pendapatan, bahkan saat tua baru bisa punya satu rumah mini.
Lebih miris ada pegawai masa lalu yang hingga pension tidak mampu memiliki rumah –sebagai tempat tinggal. Mereka tinggal di rumah dinas, yang ketika masanya akan diusir oleh penguasa berikutnya. Orang-orang yang tidak memahami masa lalu, akan menyebut mereka sebagai tidak kreatif karena belum mampu memiliki rumah hingga masa tuanya.
Kita bisa membayangkan dengan keadaan kita sekarang. Di zaman ini. Dengan berbagai fasilitas yang ada dan diberikan, seberapa besar semangat kita untuk mengabdi secara ikhlas.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.