Ketika Makan Pun Butuh Peradaban

Suasana ketika undangan menghandiri khanduri datang bertubi-tubi, membuat kita secara tidak sadar, menyaksikan sejumlah keadaan –sebagian menyenangkan, dan sebagiannya membuat kita tidak nyaman. Soal kesabaran kita dalam menunggu giliran mendapatkan makanan. Soal kesabaran ini, kacau …

Suasana ketika undangan menghandiri khanduri datang bertubi-tubi, membuat kita secara tidak sadar, menyaksikan sejumlah keadaan –sebagian menyenangkan, dan sebagiannya membuat kita tidak nyaman. Soal kesabaran kita dalam menunggu giliran mendapatkan makanan. Soal kesabaran ini, kacau di semua lini. Semakin hari, entah karena alasan apa, semakin sulit kita untuk saling antre. Seolah orang lain tidak seperti kita yang sedang membutuhkan sesuatu dengan segera.

Ketika menghadiri suatu hajatan khanduri, saya merasakan fenomena yang sudah semakin asing dalam kehidupan kita. Suasana “berebut” makanan, dengan tanpa menoleh kanan-kiri, sudah terasa sekali. Tangan-tangan yang memegang piring sudah layaknya catok (cangkul) yang hanya mengumpulkan makanan untuk piringnya, tanpa perlu menoleh atau bahkan menanyakan ke orang lain yang bisa jadi tidak kebagian.

Fenomena ini sangat menarik. Terutama karena terjadi dalam hajatan yang sebenarnya lebih mirip dengan khanduri. Seyogianya, hajatan-hajatan seperti itu akan memperkuat rasa solidaritas dan kesabaran kita sebagai manusia. Khanduri adalah ruang untuk melihat sekeliling kita dan merasakan senang atau susah secara bersama-sama. Atas kehendak itulah, maka khanduri yang menjadi tradisi makan bersama, akan benar-benar menunggu kebersamaan mulai memakan, ketika semua orang sudah mendapatkan makanan. Dalam khanduri juga kita seperti disyaratkan untuk berhenti makan ketika semua orang sudah berhenti, agar tidak terlihat ada yang menonjol satu di antara yang lain.

Kisah kehidupan seperti ini secara tidak langsung mengajarkan kita dalam menghadiri khanduri untuk membuang kepentingan yang sifatnya personal. Ego pribadi harus dikikis, dan diganti dengan rasa kebersamaan. Penentuan permulaan makan adalah ruang untuk melihat sesama, jangan-jangan ada yang belum mendapatkan makanan.

Apalagi dengan khanduri sebagai even kultural, yang harusnya memberi kita pada dua tujuan sekaligus. Dalam maknanya sebagai bagian dari sedeqah, khanduri idealnya menjadi jalan ibadah. Bagaimana seseorang ketika ingin merasakan dan mendapatkan berkah melaksanakannya –antara lain salah satunya dengan khanduri. Pada bagian lain, ia menjadi ibadah sosial karena dalam ruang sosial, seseorang ingin membangun silaturahim yang lebih lebar dengan orientasi persaudaraan.

Kedua tujuan mulia itu, memberi pelajaran bahwa jalur makan pun membutuhkan peradaban. Dari situasi ini, kita semakin memahami apa yang terjadi dengan peradaban kita. Tentu saja kondisi ini tidak bisa dilihat sederhana. Ada sesuatu yang salah dalam kehidupan sosial kita –yang mesti kita perbaiki—sebelum akhirnya terlambat.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment