Cerita tentang Karakter Bangsa

Dalam satu sesi kuliah umum, saya katakan kepada peserta kuliah dengan satu pertanyaan: apakah kita masih berada dalam negara hukum? Jangan-jangan sudah tidak. Ketika para penegak hukum dan lembaga pertahanan negara saling berlomba memperlihatkan ketidakberesannya. …

Dalam satu sesi kuliah umum, saya katakan kepada peserta kuliah dengan satu pertanyaan: apakah kita masih berada dalam negara hukum? Jangan-jangan sudah tidak. Ketika para penegak hukum dan lembaga pertahanan negara saling berlomba memperlihatkan ketidakberesannya. Semua seperti punya kuasa masing-masing yang justru tidak mencerminkan sebagaimana kuasa dan pelaksanaannya yang diatur dalam negara hukum.

Pertanyaan yang nyaris sama, apakah kita masih memiliki karakter? Bangsa kita diklaim memiliki karakter sendiri yang kuat, yang justru dalam kenyataan ditinggalkan oleh anak bangsanya. Banyak mulut berbuih menyebut karakter, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan nyata. Bahkan lebih ironis, karakter kerap menjadi proyek, lalu tidak berbekas seolah kita tidak memiliki apa-apa. Ada lembaga negara yang juga mencari proyek dengan menjual karakter.

Saat orang menyadari ada karakter bangsa yang perlu diperkuat, lalu muncul orang-orang yang lebih menimbang nilai-nilai bangsa lain. Dengan melupakan proses, diproyeksikan nilai-nilai lain itu untuk menjadi kekuatan baru yang dianggap bisa memajukan bangsa kita.

Proses duplikasi ini tidak selalu bisa berlangsung begitu saja. Banyak kepentingan yang bisa mendompleng, dengan tujuan yang berbeda-beda. Bahkan demi kepentingan itu, tidak jarang materi besar dikeluarkan. Untuk tingkat yang lebih mikro, duplikasi ini bisa saja berlangsung dengan meniru.

Tidak susah untuk meniru sesuatu dari orang lain, kapan saja bisa dilakukan copy and paste. Seseorang yang ingin menyerupai perilaku orang lain, bisa diambil kapan saja ia mau. Dengan berbagai konsekuensi dan implikasi. Perilaku yang buruk akan memberikan implikasi yang buruk, demikian juga sebaliknya. Perilaku yang baik, akan memberikan implikasi yang baik pula.

Pada tataran mikro, perilaku juga turut ditentukan oleh dengan siapa seseorang bergaul. Bergaul dengan orang yang berperangai buruk, maka kemungkinan besar untuk bergeser perilaku buruk itu, sangat terbuka lebar. Demikian juga bergaul dengan orang baik, juga terbuka peluang untuk tersebar perilaku yang baik. Soal perilaku persis kayak kata pepatah, bahwa bergaul dengan pemilik minyak wangi, maka sedikit banyak, bau minyak wangi akan menyebar ke pakaian kita. atau seperti getah nangka, orang yang tidak makan sekalipun, bukan berarti tidak bisa terpercik pula.

Perilaku buruk jangan diperlihatkan secara terang-terangan, apalagi oleh lembaga-lembaga yang harusnya menjadi contoh yang baik bagi bangsanya. Atau jangan-jangan kita sedang merusak bangsa secara bersama-sama?

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment