Perilaku seseorang sangat ditentukan oleh orang sekelilingnya. Dalam Sosiologi, sosialisasi ditentukan oleh para agennya yang sangat menentukan bagaimana seseorang akan mendapatkannya secara sempurna. Jadi jika bergaul dengan orang yang berperangai buruk, maka kemungkinan besar seseorang akan bergeser ke perilaku buruk itu. Orang yang semacam itu, pada akhirnya ia akan mengkhianati orang-orang terdekatnya. Ia bisa saja menipu orang-orang yang harusnya tempatnya yang paling dipercaya.
Demikian juga bergaul dengan orang baik, juga terbuka peluang untuk tersebar perilaku yang baik. Soal perilaku persis kayak kata pepatah, bahwa bergaul dengan pemilik minyak wangi, maka sedikit banyak, bau minyak wangi akan menyebar ke pakaian kita. atau seperti getah nangka, orang yang tidak makan sekalipun, bukan berarti tidak bisa terpercik pula.
Bangsa juga demikian. Ketika ada bangsa yang kuat dan berperilaku buruk, koleganya juga akan terikut hal yang sama. Para kolega Israel, pada akhirnya akan berperilaku seperti perilaku menjajah dan buruk dari Israel.
Perilaku bisa saja berbeda dengan perangai. Ini soal sifat batin yang mempengaruhi pikiran dan perbuatan. Dengan kata lain, disebut watak. Perilaku bisa di copy, tetapi perangai belum tentu –bukan berarti tidak bisa. Dengan keseriusan dan berulang-ulang, “mengambil” perangai orang lain bisa saja dilakukan.
Makna lain dari perangai adalah cara berbuat atau cara khas seseorang yang beraksi terhadap berbagai macam fenomena.
Karena perangai terkait sifat batin, maka orang yang ingin meniru juga harus menurutkan cara batin. Tidak bisa dibuat-buat hanya untuk waktu tertentu saja, sebagaimana meniru perilaku tertentu. Contoh terakhir ini, antara lain ketika banyak orang meniru apa yang dilakukan atau dilakonkan orang-orang yang dipujanya.
Suatu kali, ketika saya menulis status tentang perilaku dan perangai musuh, ada teman yang menanyakan melalui jalur pribadi. Dalam status itu, saya katakan, bahwa banyak bangsa di dunia itu selalu mengambil atau membuang apa yang menjadi perilaku atau perangai dari musuh yang sudah diperangi. Malah ada bangsa yang dengan penuh kesadaran, menggunakan perangai musuh untuk membangun bangsanya. Prang musoh, cok peukateun (memerangi musuh, mengambil perangainya).
Untuk status ini, ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Akan tetapi, bukan pada soal setuju atau tidak yang menjadi masalah. Menurut saya, sejauhmana penting atau tidak perangai yang diambil atau dijadikan. Jangan-jangan, banyak bangsa terfokus untuk mengambil perangai busuk dari bangsa musuh. Perangai yang seharusnya dibuang jauh-jauh, jangan diambil, apalagi dijadikan pegangan dalam kehidupan, dalam pembangunan, maupun dalam mempersiapkan masa depan.
Saya katakan kepada teman, ada perangai musuh yang baik. Ingatlah bagaimana bangsa Melayu belajar hidup tekun dengan tekad harus selalu berprestasi pada setiap waktu. Bangsa-bangsa yang tekun, harus dilihat bagaimana perangai mereka. Nah. Perangai bangsa-bangsa yang demikian, bisa menjadi kekuatan untuk membangun bangsa. Bukan perangai adu domba, yang pernah dipraktikkan para penjajah dan bangsa pembunuh.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.