Pengalaman Kehidupan sebagai Ruang Belajar

Ada ungkapan orang bijak, bahwa sesuatu yang terjadi harus selalu menjadi pengalaman untuk memperbaiki kehidupan dan peradaban manusia. Tidak boleh melewatkan sesuatu yang penting dan krusial, karena dengan pengalaman, manusia bisa belajar dan memperbaiki berbagai …

Ada ungkapan orang bijak, bahwa sesuatu yang terjadi harus selalu menjadi pengalaman untuk memperbaiki kehidupan dan peradaban manusia. Tidak boleh melewatkan sesuatu yang penting dan krusial, karena dengan pengalaman, manusia bisa belajar dan memperbaiki berbagai kesalahan dalam kehidupannya.

Semua orang harus belajar dalam hidup. Pahit atau manis harus menjadi catatan bagi manusia. Sesuatu yang baik harus diperkuat, sebaliknya yang buruk ditinggalkan. Orang yang tidak belajar, yang tidak bisa membedakan yang mana baik atau buruk. Pada taraf ini, orang sudah pada posisi kalah sebagai manusia.

Semua ingatan bukan untuk menghambat, justru ia menjadi obat bagi masa depan. Melihat ke belakang, agar memudahkan dalam mengaca masa depan. Masa lalu tidak untuk menutup masa depan. Justru dengan menoleh ke belakang, ada pengalaman mengarungi kehidupan masa depan.

Esensi ini yang harus dimiliki setiap orang, termasuk dari daerah kita. Cara pandang terhadap sesuatu bisa jadi berbeda, antara kita dengan orang lain. Hal yang harus dilakukan adalah meneguhkan cara pandang kita yang baik terhadap masa depan.

Kita harus ingat bagaimana orang-orang dari wilayah lain di negara kita, terlalu mengenal daerah ini dengan ganja. Pernah muncul batu dan giok. Hanya dua temuan itu dalam lima tahun terakhir banyak dibicarakan, mengalah dua hal lain yang sudah mulai dilupakan: konflik dan tsunami.

Puluhan tahun konflik terjadi. Orang saling berperang, dengan dua tujuan berbeda: harga mati dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau merdeka dalam perjuangan dengan mengangkat senjata. Perang ini sudah berimplikasi kepada korban yang tidak sedikit. Tidak hanya dua pihak yang bersenjata. Korban juga ada di pihak masyarakat sipil, yang jumlahnya mungkin terkira. Selebihnya ada korban laun yang tidak terhitung, psikologis dengan luka batin yang tiada terperi.

Tsunami membuat semua menjadi selesai. Setidaknya hingga sekarang –dan mudah-mudahan akan damai selamanya. Perang menjadi damai. Musuh menjadi saudara. Lalu ada pembangunan fisik yang berlipat –tiada sebanding dengan pembangunan nonfisik yang muncul luar biasa. Setelah tsunami, triliunan menjadi lumrah terdengar, walau wajah, semakin tidak sumringah.

Orang-orang bertanya tentang korban dan wilayah yang luluh lantak. Ada air mata yang tidak terkira, dengan perasaan iba yang luar biasa. Ada yang serius, ada yang bertanya ala kadarnya, sekedar ingin tahu.

Semua sisi dalam kehidupan kita, harusnya bisa menjadi hikmah, untuk bisa dipetik. Dengan apa yang ada, kita bisa belajar banyak.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment