Kaya bisa dilihat dalam berbagai sisi. Negeri kami, sering mendapatkan peristiwa yang mencengangkan. Banyak hal terjadi di sini. Dengan berbagai ruang sejarah yang sudah dilalui, yang harusnya bisa membuat orang-orang di dalamnya bisa belajar banyak. Bukankah semua yang terjadi dalam kehidupan, termasuk tragedi, adalah ruang belajar yang paling asli?
Konflik dan nonkonflik, terdengar di sini. Soal lain, yang tidak kalah hebat, tentu soal ganja. Seorang teman, setengah berkelakar, menanyakan apakah yang ia makan baru saja itu ada isi ganjanya? Saya bawa seorang teman, ke tempat mi goreng, yang bagi sebagian orang luar, mungkin menganggap seolah semua tempat makanan tersedia bumbu ini: ganja sebagai bumbu masak yang konon orang-orang dulu menggunakannya.
Lalu ketika ada temuan ladang ganja, yang terdengar hingga berapa ratus hektare, seolah menjadi pelengkap bagi yang mendengar kabar, bahwa negeri kami memang dekat dengan ganja. Media juga gencar memberitakan temuan ladang ganja yang berhektare-hektare, hingga ada yang terkesan seolah seperti berpetak-petak yang selalu ada di samping rumah warga. Orang yang tidak pernah ke negeri kami, ada yang berasumsi seolah di dalam kebun orang-orang, di dalam kebun-kebun warga. seolah mesti batang ganja paling tidak satu dua.
Padahal tidak demikian. Sebagai orang yang berasal dari sana, belum pernah melihat ada kebun-kebun dan temuan yang terdapat ganja berhektare. Sebagaimana terbayang di benak banyak orang.
Ketika kembali ke tempat mencari ilmu, dengan setengah bercanda, selalu ada pertanyaan teman tentang ganja. Konon lagi berkembang kue-kue yang katanya juga sudah mulai mengandung ganja. Tentu harus sering berurut dada, begitulah cara orang-orang berusaha mengenalnya.
Dan kabar-kabar yang demikian, kadang kala berganti dengan hal yang baru. Ketika era emas muncul, banyak tambang yang menghasilkan emas dan orang juga berpikir –seperti berpikirnya tentang batang ganja. Apalagi ketika era “batu”: ada giok, kecubung, madu, bacan, dan sebagainya. Ada akik. Batu akik adalah batu yang dipergunakan untuk mata cincin. Perhiasan dalam bentuk lingkaran kecil untuk dipakai di jari (manis), dengan ada batu akik di atasnya, sedang digemar di mana-mana. Dari daerah kita, yang paling terkenal, batu itu bernama giok. Ia semacam batu alam yang berwarna hijau, katanya terdiri dari unsur silikat kalsium dan magnesium.
Batu membuat mata banyak beralih. Di kampung-kampung, emas terganti, minyak reda sebentar. Bisnis batu menjadi pasar baru yang menghasilkan jutaan. Media mengangkatnya secara luar biasa. Orang-orang yang menonton dari luar, menganggap daerah kita seperti ada wajah baru. Setiap orang yang datang, akan disambut dengan pertanyaan yang berbeda: ada batu giok?
Tentu bukan pertanyaan yang serius. Sama seperti teman yang menanyakan kepada kita tentang ganja. Seandainya batu kemudian akan beralih ke hal lain lagi, mungkinkah akan hadir pertanyaan yang sama, seperti bertanya tentang ganja dan batu?
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.