Mengapa orang berlomba-lomba ingin menjadi penguasa? Salah satunya disebabkan oleh berbagai fasilitas yang tersedia. Ada teman saya yang memilih menjadi pejabat ketimbang akademisi. Mereka yang memiliki jabatan tertentu, dilayani dengan baik dan tersedia berbagai hal yang dianggap sebagai bagian dari membantu dalam pelaksanaan tugasnya.
Ada yang menyebut sejumlah: ketika dari rumah ada yang jemput, mobil dinas lengkap dengan sopir, bahkan sejumlah juga tersedia ajudan. Pada posisi ini, mereka bahkan sudah ada yang buka pintu mobil begitu mau berangkat ke kantor atau saat mau kembali ke rumah. Akhirnya bukan hanya saat jam dinas. Ternyata fasilitas tersebut juga banyak dinikmati di luar jam dinas.
Banyak fasilitas yang dimiliki oleh mereka yang berkuasa. Konteks kuasa, tidak semata mereka yang di puncak teritori, melainkan juga pada satu bidang profesi tertentu. Tidak heran, orang-orang yang sudah merasakan lezatnya kuasa, sebagian besar ingin mendapatkan kesempatan selanjutnya.
Hanya sedikit orang yang bisa konsisten, ketika sudah mendapat kuasa, berusaha untuk mempersiapkan tokoh penggantinya. Orang-orang yang harus dipersiapkan, yang berharap bisa jadi orang yang akan menggantikannya jauh lebih memiliki prestasi. Kebanyakan berpikir bahwa orang lain tidak akan mampu berbuat lebih sebagaimana dirinya berbuat lebih.
Begitulah yang sering terjadi. aroma ketidakikhlasan selalu terjadi dalam kebanyakan alih kuasa. Dengan berbagai alasan, dengan berbagai yang dialasankan. Tidak hanya mereka yang merasakan kuasa, orang-orang yang berada di lingkaran pemegang suatu kuasa juga melakukan hal yang sama. ketidaksiapan ketika kuasa berpindah tangan.
Dari sebuah pertukaran informasi, tidak sengaja saya mendapat kabar adanya pertarungan kembali konsep pemilihan pemimpin di satu profesi pengajar. Ada wacana mengenai pemilihan pimpinan di kampus, suara sekian persen menjadi haknya pimpinan. Kata hak menggambarkan betapa pimpinan memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuatu. Terkait dalam hal ini, tentu saja kekuasaan untuk menentukan siapa saja yang berhak menjadi pemimpin.
Untuk pemilihan pimpinan kampus, hal semacam ini sesungguhnya sudah berlangsung lama. Kementerian memiliki sekian persen suara untuk menentukan seorang rektor. Akan tetapi untuk tingkat fakultas, adalah hal yang baru sekiranya itu diwacanakan.
Menariknya, orang-orang yang bertarung akan mencari ragam jalan untuk mencapai dukungan tersebut. Ada yang bahkan mencarinya dengan terang-terangan –pola yang dianggap sesuai yang tidak layak dilakukan oleh orang kampus. Politik menjadi tempat bergantung bahkan untuk memilih pemimpin kampus.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.