Mereka yang dicabut jabatannya, tidak selalu akan ikhlas menerima begitu saja. Tentu ada banyak alasan. Terserah bagaimana cara jabatan itu diambil. Mereka yang merasa jabatan diambil begitu saja, akan menganggap dirinya dizalimi. Jarang ada sebaliknya.
Pola bagaimana jabatan itu digonta-ganti, tak jarang melalui pola yang dicari-cari. Berbagai pol aitu bahkan ada yang berkembang secara liar. Bahkan pola ini pun, akan diungkap oleh segelintir orang dalam rapat resmi.
Entah dari mana sumber diskusi ini, bagi saya kurang jelas. Sayup-sayup terdengar, apa yang diperbincangkan, ternyata sudah pernah menjadi wacana dalam satu rapat resmi. Tentu ada banyak peserta rapat. Dalam sebuah rapat, suatu wacana ada yang setuju dan ada yang tidak. Kondisi lain yang sering terjadi adalah tidak sebatas pada setuju atau tidak. Masalahnya menjadi sangat melebar ketika berhadapan dengan kenyataan lain dalam suatu diskusi, yakni ada pihak yang didengar dan ada pihak yang tidak didengar. Bagi pihak yang didengar, pendapatnya akan diterima atau tidak, itu hal lainnya. Banyak pihak yang puas sekiranya ia didengar, walau tidak bisa diterima dengan alasan tertentu. Namun bagi pihak yang tidak didengar, itu juga masalah tersendiri.
Sebuah wacana yang awalnya mungkin terbatas diperbincangkan, menjadi tidak lagi berbatas ruang, bisa diwacanakan ulang oleh siapa saja. Dengan kenyataan kebebasan informasi, dan bantuan teknologi komunikasi yang sedemikian rupa, lempar-melempar wacana dalam berbagai ruang informasi, tidak bisa lagi diketam. Ia bisa melaju cepat menembus ruang-ruang yang rapat sekali pun.
Saya tidak ingin memperbincangkan bagaimana wacana itu bermula dan berakhir. Bagi saya yang lebih menarik adalah untuk memperbincangkan kekuasaan –sesuatu yang oleh “rasa” mungkin bisa disebut sebagai lezat bagi yang memilikinya. Sudah lama diperbincangkan, bahkan oleh para filsuf, mengenai mengapa orang mengejar kekuasaan. Apa yang menyebabkan ada orang yang melihat jabatan sebagai sesuatu yang penting, sedang yang lain ada yang tidak. Pihak yang mengganggap jabatan sebagai sesuatu yang penting –bahkan mungkin ada yang seperti menuhankan [naudzubillah]—akan mengejar dengan berbagai cara mendapatkannya. Tidak hanya melakukan cara yang benar dan lurus, orang yang sudah terlanjur menganggap bahwa bila tidak ada kekuasaan maka tidak bisa melakukan apa-apa, maka apapun akan dilakukan, termasuk hal-hal yang tidak lurus dan picik.
Lantas mengapa?
Ternyata orang yang tidak menganggap jabatan sebagai sesuatu yang penting, jarang menikmati fasilitas yang luar biasa. Ia tidak tahu bahwa dengan jabatan akan menentukan posisi banyak orang –yang oleh sebagian menganggap termasuk hidup dan matinya orang-orang. Sebaliknya, ada orang yang sangat menikmati, dan sudah pada tataran lezat, maka ketiadaan jabatan bisa menyebabkannya mati.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.