Ibarat Tubuh Yang Satu, Tak Boleh Ada Yang Sakit dan Tersakiti

Puasa tahun ini, kita disuguhi dua kondisi. Pertama, keuangan negara yang sepertinya tidak stabil, akibat terlalu banyak pengeluaran yang dibutuhkan. Keinginan. Utang yang ditinggalkan rezim, dan program pemerintahan baru yang membengkak. Makan bergizi gratis, program …

Puasa tahun ini, kita disuguhi dua kondisi. Pertama, keuangan negara yang sepertinya tidak stabil, akibat terlalu banyak pengeluaran yang dibutuhkan. Keinginan. Utang yang ditinggalkan rezim, dan program pemerintahan baru yang membengkak. Makan bergizi gratis, program andalan rezim sekarang, sepertinya menghabiskan banyak anggaran. Kedua, AS-Israel yang memerangi Iran, mempengaruhi secara global. Penjajahan tersebut berdampak karena terkait energi dunia. Pemerintah memilih efisiensi dalam rangka menanggulangi berbagai kebutuhan. Sejumlah inisiasi dipikirkan, termasuk kemungkinan kerja dari rumah.

Cuti tahun ini pun lebih lama saja. Idul fitri, lalu ada hari nyepi. Cuti untuk dua even ini, berlangsung hingga tanggal 25 Maret nanti. Setelah itu, ada sejumlah hari yang diharapkan bekerja dari tempat masing-masing.

Tentu saja, soal pulang kampung menjadi sangat penting bagi mereka yang merayakan idul fitri. Pulang kampung memiliki makna penting dalam momentum hari raya, karena menyambung tali silaturrahim. Sayangnya maksud yang baik itu kadangkala dilalui dengan proses yang tidak baik. Pulang untuk silaturrahim, namun prosesnya mengorbankan puasa yang seharusnya dijaga sedemikian rupa.

Bagi Muslim, ada dua hari raya penting sepanjang tahun. Tanggal 1 Syawal sebagai hari raya idul fitri. Dan tanggal 10 Zulhijjah sebagai hari raya qurban atau hari raya haji. Sepanjang waktu, hari raya idul fitri terkesan lebih meriah. Berhari-hari disediakan cuti untuk hari yang fitrah ini, sesudah umat Islam melaksanakan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan, selama sebulan penuh. Sedangkan pada hari raya haji, ada momentum lain, ketika jutaan umat berkumpul di Arafah, dalam rangka pelaksanaan ibadah haji ke Baitullah.

Dua waktu itu adalah momentum pelaksanaan rukun Islam. Ibadah puasa dan ibadah haji. Masing-masing memiliki hikmah tersendiri yang tidak bisa diukur oleh manusia. Tidak seperti mengkalkulasi dengan rumus matematika dari kedua ibadah tersebut.

Khusus untuk idul fitri sering dirayakan secara khusus dan lebih meriah di banyak tempat. Untuk hari raya ini pula, gelombang orang yang pulang kampung sangat terasa di seantero Nusantara. Orang-orang yang pulang ke kampung pada even ini, bersilaturrahim dengan keluarga besarnya.

Untuk momentum tersebut, orang-orang akan memper-siapkan secara khusus. Dibutuhkan berbagai kesiapan, selain materi, juga waktu dan tenaga yang dipersiapkan untuk pulang ke kampung pada even tersebut.

Fenomena pulang kampung ketika even inilah, mungkin tidak banyak dikenal pada banyak tempat di dunia ini. Paling terkenal adalah negara kita, dengan apa yang dinamakan mudik. Istilah ini, dalam Kamus Bahasa, secara sederhana diartikan dengan berlayar atau pulang. Wikipedia mengarti-kannya sebagai kegiatan tahunan dari para pekerja atau orang yang berada di perantauan atau buruh migran untuk pulang kampung pada even tertentu. Sifat kegiatan ini adalah tahunan. Orang yang ada di daerah atau negara lain, pada even tertentu pulang ke kampung halamannya.

Ada jutaan orang memilih jalan pulang kampung halaman pada even tertentu itu. Dengan berbagai cara mereka pulang. Letak daerah yang jauh, mereka rela antre tiket kereta api atau bus berhari-hari. Sedangkan yang bisa ditempuh dalam sehari perjalanan, tidak kurang jumlahnya yang memakai sepeda motor. Suatu keadaan yang kadang miris melihatnya, apalagi orang yang tidak memiliki kemampuan lebih, memilih mudik dengan sepeda motor dengan ditumpangi tiga hingga empat orang –tentu dua diantaranya anak yang masih di bawah umur –padahal pada saat yang sama sejumlah fasilitas gratis disediakan di banyak tempat. Jalan ini dipilih karena ingin merasakan kampung halaman tersebut.

Pulang kampung memiliki arti penting, baik mereka yang masih memiliki orang tua atau mereka yang sudah tiada lagi orang tuanya. Mereka yang meninggalkan kampung, pada akhirnya tidak benar-benar meninggalkan, karena pada even tertentu, mereka akan pulang –walau seluruh anggota keluarganya sudah tiada, mereka akan menjenguk kampung yang biasanya mengukir banyak cerita. Belum lagi kampung, biasanya menjadi ruang lain mengekspresikan keberhasilan seseorang –umumnya diukur secara material dan pendapatan.

Orang-orang yang berhasil menempuh pendidikan, umum atau agama, memiliki makna tersendiri. Mereka memiliki masyarakat sendiri yang menerima kesannya. Di luar itu, ada kesan pula orang-orang yang secara ekonomi sudah mapan, lebih gagah langkahnya. Padahal tidak demikian, karena masing-masing orang memiliki tempat tersendiri di kampung halamannya.

Begitulah kesan pulang kampung. Tidak sedikit orang, pulang kampung itu sebagai upaya untuk mengembalikan energi dalam dirinya. Dapat saja bermakna bahwa di kampung, bisa menyegarkan kembali semangat dan ingatan seseorang. Dengan semangat tersebut, seseorang akan dapat melakukan sesuatu yang lebih sesudahnya. Semangat yang secara langsung atau tidak, dapat menjadi pencemeti bagi seseorang untuk melahirkan sesuatu yang lebih luar biasa sesudahnya.

Pada dasarnya pulang kampung bisa dimaknai sebagai jalan berkarya –atau berkarya kembali secara lebih hebat. Dengan pilihan ini, maka bagaimana pun proses pulang kampung yang dijalani, tetap memiliki arti penting. Dengan berbagai bentuk perjuangan dari proses pulang kampung itu, akan tergantikan dengan semangat yang dilahirkan kemudian. Justru yang rugi adalah mereka yang pulang kampung dengan susah payah, namun itu semua tidak bisa membuatnya menambah semangat untuk berkarya yang lebih besar lagi, yang lebih hebat.

Pemaknaan demikian kadang-kadang dirasakan perusahaan tertentu, yang memfasilitasi karyawannya untuk mudik, dengan berharap bahwa ketika mereka kembali, akan tampil dengan semangat yang berlipat.

Jalan yang lebih dalam adalah orang-orang yang pulang kampung, setelah itu ketika kembali ke tempatnya masing-masing, selalu bisa merenungi dan berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan sesuatu yang lebih pada masa depan. Seseorang yang selalu bertekad untuk tidak mau rugi, dengan cara lebih kurang atau bahkan sama dari hari-hari sebelumnya.

Bukankah selalu banyak cara untuk pulang kampung? Tentu dengan berbagai pertimbangan dan tujuannya. Jangan pernah dilupakan bahwa pulang kampung adalah membangun persaudaraan, dengan tidak melupakan pentingnya membangun persaudaraan dengan tetangga. Orang-orang yang dekat dengan kehidupan kita adalah para tetangga itu.

Jangan sampai kita berkorban luar biasa untuk pergi ke tempat jauh, namun melupakan begitu saja mereka yang dekat dengan kehidupan kita. Makanya tidak boleh menyakiti tetangga, juga satu kewajiban dalam membangun persau-daraan itu secara paripurna.

Hari raya harusnya menyadarkan kita akan menjaga perasaan semua orang. Tidak boleh ada yang tersakiti. Semua ibarah tubuh yang satu, sakit pada satu bagian akan terasa pada bagian yang lain.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment