Jalan Panjang Memahami Situasi

Dalam ruang sosial, kajian tentang situasi dibahas secara khusus. Namun, kolom ini tak hendak masuk begitu jauh kajian teoritis itu. Catatan sederhana ini, hanya ingin menyampaikan pesan tentang betapa pentingnya melakukan penafsiran terhadap lingkungan sosial …

Dalam ruang sosial, kajian tentang situasi dibahas secara khusus. Namun, kolom ini tak hendak masuk begitu jauh kajian teoritis itu. Catatan sederhana ini, hanya ingin menyampaikan pesan tentang betapa pentingnya melakukan penafsiran terhadap lingkungan sosial masing-masing. Perilaku apa yang ingin ditampakkan, tidak boleh lepas dari keadaan ini.

Menempatkan diri, harus sesuai dengan tempat. Jangan melupakan keadaan dalam lingkungan sosial tertentu. Cara memahami lingkungan sendiri, akan berbeda menurut masing-masing budaya. Kita tidak boleh melupakan apa yang sedang dibutuhkan. Orang-orang yang membutuhkan keheningan, harus dihargai. Ada masyarakat yang sangat sensitif, dan bisa menegur orang-orang sekelilingnya hanya dengan mendehem. Begitu juga sebaliknya. Ada lingkungan sosial, yang justru tidak akan membawa dampak apa-apa walau dengan memaki-maki –yang ada justru masyarakat semakin tidak bernilai.

Kondisi tempat harus dipahami. Tempat yang sedang melaksanakan hajatan khusus, harus dihargai agar suasana berlangsung sebagaimana harapan. Tidak ada suara dan gaduh pada tempat yang sedang penting pada hening. Misalnya, saat-saat sacral.

Perilaku orang seharusnya mengikuti tuntutan. Di tempat yang sedang mengejar khusyu’, tidak diganggu dengan suara-suara. Orang yang membutuhkan suara-suara, seharusnya juga ada tempatnya. Jika ditamsilkan, seperti hajatan olahraga, ada lapangan masing-masing.

Tempat yang satu tidak mungkin dicampur dengan kegiatan yang lain. Kompetisi suara tidak mungkin didekatkan dengan orang yang sedang butuh keheningan. Orang-orang harus memahami tuntutan demikian, agar dalam bertingkah laku tidak berkebalikan dengan yang diharapkan.

Beberapa waktu yang lalu, saya mempunyai pengalaman yang luar biasa. Ikut suatu kegiatan penting di satu aula. Kegiatan ini dipimpin oleh beberapa orang penting. Para pengikut acara ini, juga sepertinya orang-orang penting semua. Sebelum acara dimulai, karena ini acara penting, panitia sudah menempel pengumuman di berbagai tempat dalam aula, agar segala alat yang menimbulkan bunyi, agar dimatikan atau dihilangkan suara. Anak-anak yang dibawah 12 tahun juga dilarang, karena dianggap anak-anak di bawah umur tidak bisa membedakan antara mainan dan bukan mainan.

Apa yang terjadi? ternyata walau ini acara orang penting, namun perilaku seperti orang bukan penting. Orang ke sini itu ternyata maksudnya berbagai macam. Ada yang hanya ingin menyetor wajah saja kepada pengundang, bahwa yang bersangkutan sudah datang, lalu di dalam aula, duduk dan saling berbicara. Pimpinan hajatan beberapa kali menegur agar orang yang hadir tidak berbicara karena bisa menganggu acara. Ternyata orang yang berbicara terus terjadi.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment