Orang-Orang yang Bertarung Melewati Batas Negara

Negara ini, yang letaknya sangat strategis posisi geografisnya, menjadi incaran banyak orang dari berbagai negara. Selain strategis, juga ada kepentingan lain, misalnya soal bagaimana soal kesantunan yang dipelajari orang dari negara lain sebagai identitas dari …

Negara ini, yang letaknya sangat strategis posisi geografisnya, menjadi incaran banyak orang dari berbagai negara. Selain strategis, juga ada kepentingan lain, misalnya soal bagaimana soal kesantunan yang dipelajari orang dari negara lain sebagai identitas dari masyarakat kita.

Ada banyak kepentingan. Ketika ada sekelompok orang datang ke suatu tempat, suatu negara, sudah dipikir berbagai risiko. Bahkan jika berhubungan dengan sesuatu yang buruk, juga sudah dipertimbangkan berbagai risiko buruknya.

Sejak 2016, Indonesia banyak mendapatkan rombongan manusia yang dengan menggunakan kapal seadanya melewati laut yang tidak tentu cuacanya. Dari beberapa kapal yang diselamatkan nelayan Aceh, misalnya, ternyata jumlahnya ribuan orang. Berhari-hari di dalam laut dan mengarungi samudera untuk mencapai daerah lain, entah daerah apa yang menjadi sasaran mereka sebenarnya. Yang jelas mereka berlayar untuk melewati batas negara. Bahkan ada yang berhasil melewati Indonesia hingga menggapai Australia.

Kebijakan mereka juga berbeda-beda. Sejumlah tertentu, setelah sekian lama, kemudian dideportasi ke daerah asal. Sebagian yang lain, mendapat status pengungsi dan ditampung disejumlah negara ketiga.

Di lokasi sementara, mereka bisa tinggal bertahun-tahun, dengan semua kebutuhan yang ditanggung oleh negara yang bersangkutan. Ini, tentu juga bukan persoalan sederhana. Mengurus ribuan orang dengan berbagai kebutuhan. Makanya peran orang-orang di luar negara menjadi sangat penting untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan demikian.

Mereka yang berombongan itu sedang berupaya untuk menghindari perang. Ada beberapa negara yang menjadi tujuan mereka. Mungkin sebagian sudah mendapat kesan, negara yang dituju itu ramah terhadap pengungsi. Dengan daratan yang kebanyakan menyatu, maka para pengungsi yang berjalan kaki itu bisa melintasi beberapa negara.

Awalnya negara-negara yang dilewati membuka pintu. Seperti orang yang bersahabat. Namun akhir-akhir ini, pintu mereka diberikan jeruji. Orang-orang yang melewati negeri mereka, disortir dan tak bebas keluar masuk lagi. Sedang ada perubahan kebijakan besar-besaran. Batas-batas negara diberikan kawat duri agar para pengungsi yang melintasi bisa ditilik dengan hati-hati.

Kini para pengungsi itu bertambah bebannya. Orang-orang yang melihat dari jauh, lalu berkesimpulan bahwa negeri mereka memang barbar. Tetapi ada yang dilupakan, bahwa kondisi perang itu, dikreasikan oleh negara yang bermimpi kepada sumber daya alamnya.

Mereka porak-porandakan orang di dalam negara, untuk kemudian menjadi mudah mengatur pembagian jatah sumber daya. Orang-orang pandai pura-pura tidak melihat alasan terakhir ini. Untuk hal tertentu, ada yang hanya melihat apa yang terlihat. Namun untuk hal lainnya, berusaha mengorek secara mendalam melalui tafsir dan pendalaman di baliknya.

Ada yang sangat suka dengan kesimpulan bahwa di tanah tempat agama diperkenalkan, adalah negeri yang tidak sebangun dengan bangunan kemanusiaan.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment