Jejaring Ilmu vs Mafia Sitasi

Sebagai pembaca yang menyukai isu publikasi, ada opini pembanding yang muncul di ruang publik sangat penting dan membahagiakan bagi saya. Tulisan Profesor Azharsyah Ibrahim, “Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil” …

Sebagai pembaca yang menyukai isu publikasi, ada opini pembanding yang muncul di ruang publik sangat penting dan membahagiakan bagi saya. Tulisan Profesor Azharsyah Ibrahim, “Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil” (Serambi Indonesia, 18 Mei 2026). Tulisan ini dapat dibaca pada link: https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1025978/bukan-mafia-sitasi-ini-jejaring-ilmu-tanggapan-untuk-teuku-muhammad-jamil?page=2. Saya menghormati capaian dua institusi perguruan tinggi ini, yang harusnya saling berkolaborasi.

Sama seperti catatan saya terhadap sejumlah tulisan yang lain, menyederhanakan ke dalam sejumlah catatan hanya untuk mempermudah saya memahami dan berdiskusi terkait publikasi. Di luar itu, saya tidak akan masuk ke domain yang lain.

Sejumlah catatan yang diberikan Azharsyah Ibrahim sangat strategis bagi publik. Pertama, soal integritas akademik sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar. Bagi sebuah institusi perguruan tinggi, apa yang disebut sebagai integritas akademik sebagai sesuatu yang sangat penting dan menjadi pegangan bersama. Integritas keilmuan mutlak diperlukan.

Kedua, soal perkembangan suatu kampus yang mengalami lonjakan peringkat signifikan, terutama dalam hal sitasi, tidak bisa serta-merta dianggap sebagai hasil manipuasi hingga mafia sitasi di lingkungan akademik. Tidak boleh melupakan adanya kerja keras dari masing-masing perguruan tinggi untuk mencapai tingkatan itu. Jadi proses pencapaian hingga menembus indeksasi bereputasi global seperti Scopus, tidak bisa disederhanakan seolah-olah sebagai hasil manipulasi.

Ketiga, ada penekanan sejak dari tata kelola jurnal yang harus disiapkan masing-masing perguruan tinggi. Sangat penting adanya manajemen jurnal yang bermutu dan tidak jarang dipersiapkan bertahun-tahun untuk mencapai suatu titik tertentu. Apalagi di Indonesia, dengan sistem Akreditasi Jurnal Nasional (Arjuna), tidak bisa dicapai tanpa kerja keras. Semua jurnal harus secara konsisten mengelola berdasarkan tata kelola jurnal yang baik. Hal yang sama secara global, sudah ditentukan sejak dari susunan pengelola jurnal yang harus dari lintas benua, proses peer-review yang ketat dan blind review, dan konsistensi terbitan.

Keempat, sungguh menyederhanakan cara dan proses evaluasi pengindeks jurnal global jika berangkat dari kesimpulan bahwa apa yang disebut sebagai “mafia sitasi”, khususnya melalui “saling kutip” sebagai proses yang secara langsung dapat mendongkrak peringkat bahkan indeksasi secara global tersebut. Saling kutip ini harus dibedakan dengan “kartel sitasi” (citation cartel) yang melanggar etika. Pada tingkat tertentu, mekanisme pengawasan berlaku, yakni jurnal tertentu akan mendapat sanksi discontinued dari indeks. Merujuk Committee on Publication Ethics (COPE), sitasi bermasalah jika secara paksa (coercive citation) dan tidak relevan dengan substansi artikel.

Kelima, capaian satu perguruan tinggi yang terlihat seperti tiba-tiba, idealnya harus dilihat sebagai akumulasi proses yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun sebelumnya secara masif. Hal ini bisa ditelusuri lewat insentif riset, kebijakan pendanaan publikasi, pengiriman dosen untuk studi lanjut, kolaborasi riset internasional yang dirancang sistematis oleh perguruan tinggi. Semua kampus memiliki sumber daya manusia yang bekerja tidak kenal lelah, dan tidak adil ketika mendapatkan hasilnya dengan mudah diklaim sebagai “permainan kotor”.

Keenam, pentingnya kolaborasi keilmuan antarperguruan tinggi. Pencapaian prestasi tertentu dari kampus tertentu, idealnya menjadi kekuatan bagi kampus yang lain, walau untuk prestasi yang berbeda. Ada ruang kolaborasi keilmuan yang harus dibuka lebih lebar. Dan itu semakin dibutuhkan saat dunia sedang berlomba menentukan standar global.

Apa yang diingatkan dari enam hal di atas, saya ingin memberi penekanan pada pentingnya kolaborasi keilmuan. Tidak semua kampus mampu memenuhi semua kebutuhannya. Pintunya harus dibuka dengan melihat sumber daya manusia di perguruan tinggi sebagai potensi yang saling dibutuhkan dalam memperkuat kampusnya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment