Membicarakan Ruang di Ruang-ruang

Sejumlah teman sering membocorkan apa yang terjadi dalam ruang-ruang –termasuk ruang yang membicarakan ruang. Pertemuan penting tentang ruang, sering tidak mengakomodir banyak pihak. Termasuk mereka yang diundang, hanya kalangan terbatas saja. Ada kesan bahwa terlalu …

Sejumlah teman sering membocorkan apa yang terjadi dalam ruang-ruang –termasuk ruang yang membicarakan ruang. Pertemuan penting tentang ruang, sering tidak mengakomodir banyak pihak. Termasuk mereka yang diundang, hanya kalangan terbatas saja. Ada kesan bahwa terlalu rumit membicarakan ruang jika terlalu banyak orang terlibat di dalamnya.

Padahal membicarakan soal rumit itu, justru butuh banyak orang, banyak pendengar, walau hanya untuk duduk-duduk saja. Pada akhirnya, yang diharapkan apapun yang terkait dengan orang banyak, memang idealnya mengundang banyak orang dalam mengambil keputusan yang terkait dengan kehidupan mereka.

Realitas sering tidak seperti itu. Seperti orang yang menyukai sepak bola, menonton saja bisa jadi muncul banyak keinginan. Apalagi mereka yang bermain. Orang-orang yang berada di lapangan, juga banyak yang kepingin jadi wasit atau hakim garis.

Teman saya tadi menyebut, sudah semakin sulit membedakan antara ruang dengan uang. Terkesan sekarang ini semua ruang bisa diuangkan. Bahkan ruang dan ruang ditentukan oleh seberapa banyak uang untuk mengaturnya. Ruang kosong atau tidak kosong, asal bisa dimanfaatkan, langsung diuangkan. Ruang yang lindung saja diupayakan untuk tidak lindung, apalagi yang lain.

Penyusunan ruang, baik mereka yang duduk di dalam ruang maupun di luar, menggambarkan betapa tarik menarik kepentingan memang terjadi. Seharusnya ruang memperhatikan pola, sesuai dengan karakternya. Kenyataannya tidak semua mengikuti demikian. Ruang terkesan disusun suka-suka.

Dalam Kamus, yang disebut ruang, terdapat dalam empat makna. Pertama, sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah. Kedua, rongga yang terbatas atau terlingkung oleh bidang. Ketiga, rongga yang tidak berbatas, tempat segala uang ada. Keempat, petak di buah (durian, petai); pangsa.

Maksud dalam tulisan ini terkait dengan wadah. Terkait dengan lingkungan, wadah itu terkait dengan peruntukan yang seharusnya.

Ketika disebut dengan ruangan, maksudnya mungkin akan sedikit berbeda. Makna ruangan berbagai macam. Pertama, tempat yang lega; kamar (besar); bilik (dalam rumah); kelas (tempat belajar); tempat dalam kapal (perahu); tempat muatan; palka. Kedua, lajur; kolom surat kabar. Ketiga, lapangan; lingkungan; kalangan. Keempat. Rubrik dalam koran (majalah).

Sementara uang adalah alat pembayaran.

Dengan mekanisme pemanfaatan ruang yang semakin tidak terkendali, suka-suka, maka lahirlah ungkapan di awal: ruang untuk uang. Uang dari ruang.

Secara eksplisit, tidak ada yang mengaku bahwa semuanya demi uang. Mengawinkan ruang dengan uang hanya bisa ditelisik dengan terawang. Masalahnya, di mulut orang tidak mengaku walau implikasi ruang bisa dilihat dengan mata telanjang.

Orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuasaan, salah satunya ditentukan oleh bagaimana bisa mengatur itu semua.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment