Mengapa Voting Disukai?
Saya kira, selalu ada debat, ketika bicara bagaimana budaya musyawarah tidak selalu bisa jalan dengan baik. Dalam sejumlah even, musyawarah memungkinkan jalan ketika orang kuat merasa jalur itu paling mudah. Tetapi jika tidak bisa dicapai, tetap akan digunakan jalur lain. Dalam pemikiran, misalnya, akan menggunakan jalur pemungutan suara. One man one vote.
Dengan kondisi pemilihan sekarang, orang merasa publik pun memungkinkan dipemainkan. Dulu, orang yakin jika yang pilih lebih banyak orang, kesempatan untuk kongkalikong akan kecil. Tetapi tetap terlihat ada sisi negatifnya, ketika publik ternyata makin tidak mau tahu –permisif terhadap keadaan—walau kekuasaan itu ada untuk mengatur kehidupan mereka dengan baik.
Ketika pilihan tidak menguntungkan, jalur musyawarah untuk mufakat akan dianggap sebagai jalan rumit. Dengan bahasa sederhana, “tidak mungkin memuaskan semua orang”. Jalur yang dipilih tetap praktis dan efisien –dua kata ini yang paling sering diucap oleh mereka ingin secepatnya mengatur-atur orang banyak.
Saya kira ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan, bahwa dunia sedang berubah. Banyak orang tidak ingin terjebak dalam proses yang bertele-tele. Dominan pihak ingin apapun berjalan cepat dan tuntas. Maka dalam kondisi demikian, misalnya jika ada sebuah pemilihan orang-orang yang akan melayani organisasinya, hanya pemilihan dengan corak voting yang bisa menuntaskan dalam waktu yang cepat.
Proses pemilihan yang demikian, lalu merambah ke banyak hal lain. Tidak hanya sebatas memilih pemimpin organisasi. Proses penentuan melalui voting juga merambah untuk menetapkan hal-hal yang terkait dengan keputusan tertentu. Dalam ruang begini, untuk sebagian pihak, voting itu menjadi sesuatu yang keramat. Tidak boleh tidak. Katanya satu manusia akan mendapatkan satu suara. Tidak hanya untuk menentukan pemimpin, ternyata. Bahkan untuk menentukan keputusan banyak hal, juga tidak jarang dipergunakan voting.
Jamak terlihat pilihan ini dianggap jalan logis. Bahkan ada yang mencap, tidak perlu banyak proses, apalagi membutuhkan waktu untuk memberi peluang banyak orang menyampaikan isi hatinya. Proses pemungutan itu akan bisa berlangsung dengan cepat.
Dalam organisasi batil yang dikelola dengan baik, ada kekuatan yang bisa menolak kebenaran dan menerima kebatilan dengan mekanisme voting.
Sebaliknya ketika orang-orang yang berpihak pada kebenaran semakin sedikit, berpeluang mereka akan selalu kalah ketika dilakukan menurut jumlah suara. Apapun bisa menang, ketika jumlah semakin banyak.
Mudah-mudahan tidak akan ada suatu waktu, ketika jumlah yang banyak justru mendukung kebatilan.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.