Ada soal yang sering diperdebatkan: apakah kita akan mengejar metrik dulu terkait indeks; ataukah mengejar penulisan yang berorientasi pada tradisi ilmu dengan tidak memikirkan jurnal-jurnal yang memiliki indeks yang baik? Pada posisi ini, penting menegaskan bahwa moralitas akademik bukan berarti tidak dimiliki oleh jurnal-jurnal yang memiliki indeks yang baik itu. Muncul pertanyaan lanjutan –bagi mereka yang ingin mempermasalahkan tiada henti—apakah indeks suatu jurnal itu diperoleh dengan jalan lurus ataukah dengan cara yang buruk. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu muncul dan idealnya tidak dilupakan begitu saja. Penting untuk mendapat perhatian, agar memiliki pemahaman yang sefrekuensi dalam memahami bagaimana operasionalisasi jurnal.
Ada analogi yang sering saya jelaskan kepada mahasiswa di kelas yang mengambil metode penelitian atau publikasi ilmiah. Pertama, apa yang akan dilihat dari suatu artikel akademisi atau peneliti? Bukankah yang akan dilihat adalah soal dampak; soal pengaruh; soal bagaimana suatu gagasan akan menjadi diskursus ilmiah dan didiskusikan untuk mendapat tempat dalam ruang sosial. Dengan demikian, ketika ada masalah, ada pilihan jalan keilmuan sebagai solusinya?
Kedua, jika kita berpandangan bahwa dampak yang harus dilihat, muncul pertanyaan yang lain, yakni bagaimana melihat dampak itu? Ketika masih mengelola jurnal, terutama saat berdekatan dengan proses pengajuan akreditasi, dampak selalu ditegaskan dengan sitasi. Karya yang kita hasilkan, dipublikasi dan disebarluaskan lewat publisher, lalu dirujuk oleh peneliti atau akademisi yang lain. Bahkan di dalam kelas, saya biasanya selalu berbagi artikel-artikel yang saya anggap bagus dan jika ada mahasiswa yang meneliti dengan isu terkait, saya sarankan untuk dikutip. Dalam pengajuan akreditasi, sebelum jurnal online, jumlah sitasi yang dianggap tinggi di atas 25. Dengan demikian, jika ada jurnal yang artikelnya dikutip sudah lebih dari 25, dianggap layak mendapat poin sempurna pada sisi dampak.
Pertanyaan sebelumnya yang muncul, bagaimana jika ternyata artikel-artikel jurnal itu dibagi kepada kolega, para mahasiswa, atau bahkan peneliti dalam organisasi atau konsorsium keilmuan tertentu? Saya beranggapan, hal tersebut tidak masalah dilakukan. Toh, jurnal-jurnal besar juga sering berbagi artikel-artikel dalam jurnalnya kepada pihak lain secara luas. Mereka menggunakan berbagai jalur agar artikel mereka bisa diakses dengan baik. Bukankah tujuan utama dari membuka akses supaya orang lain bisa merujuk pikiran tersebut melalui diskursus keilmuan?
Maka dalam konteks ini, bagi saya menjadi aneh jika orang menghasilkan karya, tetapi bukan untuk disebarkan kepada orang lain. Gagasan dalam sebuah karya, tentu saja ingin disampaikan kepada publik agar menjadi pengetahuan, bahkan untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, keliru jika ada orang yang menghasilkan karya, mengklaim gagasannya sangat berdampak, sedangkan sitasi masih kosong.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.