Review sebagai Nadinya Standar Jurnal

Tanda tanya ini kerap muncul di benak saya: apakah ada satu kampus di dunia ini yang menentukan capaian dosennya pada jabatan akademik tertentu tanpa melalui standar tertentu? Pertanyaan ini, pada dasarnya juga bisa dikembangkan lebih …

Tanda tanya ini kerap muncul di benak saya: apakah ada satu kampus di dunia ini yang menentukan capaian dosennya pada jabatan akademik tertentu tanpa melalui standar tertentu? Pertanyaan ini, pada dasarnya juga bisa dikembangkan lebih luas: apakah ada kampus di dunia ini yang tidak mewajibkan dosennya untuk menghasilkan publikasi? Bentuk publikasi bisa saja artikel jurnal, buku, prosiding, poster, atau artikel surat kabar. Tanda tanya yang lain, misalnya, artikel yang diwajibkan itu, apakah harus ikut kualifikasi tertentu, atau bisa dilakukan di mana saja?

Pertanyaan di atas penting, jika kita ingin mengetahui dan memahami lebih dalam mengapa publikasi itu menjadi sebuah kewajiban. Seseorang yang produktif, sepertinya juga harus diimbangi dengan ruang terbit. Setiap orang akan berkompetisi untuk tertampung karyanya pada jurnal yang berkualitas dan layak. Timbul pertanyaan lagi, kadar apa pula yang digunakan untuk menentukan “jurnal yang berkualitas dan layak” itu?

Ada pengalaman saya yang agak unik. Seorang senior saya yang dikenal sangat kritis, dengan bangga menyampaikan ke saya soal ada bimbingannya yang berhasil menembus satu jurnal berbahasa Inggris. Artikel yang dimuat, dikirim oleh mahasiswa sarjana, bergabung dengan nama senior saya itu. Sebagai pengelola jurnal, saya tentu juga bangga pada setiap orang yang menghasilkan karya –apalagi ini yang menghasilkan artikel justru masih mahasiswa sarjana. Sebagai pengelola jurnal, saya memiliki pengetahuan untuk mengecek jurnal yang ada. Lantas saya telusuri dan bukankah tidak sulit menemukan satu jurnal pada era yang terbuka seperti sekarang? Apalagi untuk jurnal yang sudah online. Tidak rumit juga untuk mengetahui bahwa satu jurnal itu punya kualifikasi bagus atau tidak.

Selama menjadi koordinator program studi magister, saya juga punya pengalaman mendapatkan keluhan mahasiswa terkait publikasi jurnal. Setiap semester, saya juga memeriksa sekitar 40 produk artikel untuk diberikan nilai. Keadaan ini menuntut saya memeriksa jurnal yang mempublikasikan artikel mereka. Tidak semua jurnal memiliki proses review. Secara formal, misalnya indikator jurnal internasional yang menjadi syarat kelulusan, bisa saja terpenuhi. Di tempat kami, ada indeks minimal Copernicus, editor dan reviewer masing-masing dari empat negara. Tetapi dalam pengalamannya, menemukan bahwa artikel yang dipublish ternyata tidak melewati proses review.

Salah satu artikel yang tidak mendapat review yang layak itu, karya dari mahasiswa bimbingan senior saya tadi. Saya menjelaskan bahwa jurnal yang tanpa atau tidak melalui proses peer-review secara layak, disangsikan jurnal tersebut sebagai yang berkualitas baik. Saya kira semua kampus di dunia, memegang indikator ini. Terserah, mungkin indeks yang dipilih secara berbeda. Semua indeksasi, tidak mungkin longgar terhadap kewajiban review. Jadi kalau ada klaim bahwa seolah-olah indeks itu tidak selaras dengan tradisi keilmuan dan moralitas akademik, bagi saya itu termasuk klaim yang keliru.

Tradisi keilmuan sudah demikian terbuka dan semakin menuntut kolaborasi lebih luas. Kampus yang berkualitas baik di dunia ini, sudah mencapai tingkat inklusif keilmuan di atas rata-rata kampus lainnya. Bukankah dengan demikian, pencapaian ini justru berangkat dari kolaborasi keilmuan sebagai syarat utamanya?

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment