Belajar dari si Doel

Istilah mentalitas, sungguhnya ingin menegaskan mengenai pentingnya sikap batin terhadap sesuatu. Ada satu perilaku buruk, seseorang menolaknya bukan karena biar dilihat orang lain bahwa yang bersangkutan tampak baik, melainkan karena perilaku demikian memang ditolak dari …

Istilah mentalitas, sungguhnya ingin menegaskan mengenai pentingnya sikap batin terhadap sesuatu. Ada satu perilaku buruk, seseorang menolaknya bukan karena biar dilihat orang lain bahwa yang bersangkutan tampak baik, melainkan karena perilaku demikian memang ditolak dari dalam diri manusia.

Penolakan ini bisa disebut sebagai bahasa batin. Seseorang yang menolak sesuatu yang buruk disebabkan batinnya tidak terima dan tidak nyaman, walau berpotensi memberi keuntungan. Sesuatu yang buruk, oleh batin bisa ditimbang-timbang. Makanya orang yang menggunakan batin, akan memahami sesuatu yang dilakukannya itu baik atau buruk. Sesuatu yang baik belum tentu tidak dikerjakan. Sesuatu yang buruk belum tentu ditinggalkan. Dikerjakan atau ditinggalkan sesuatu yang baik, dapat dipahami sepenuhnya oleh batin manusia.

Saya ada satu cerita. Suatu Siang, ketika pulang dari kampus agak cepat. Datang ke kampus, sempat masuk ke perpustakaan sebentar dan hanya membaca koran, lalu merasa seperti kurang tenaga, memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Sesampai di rumah, meraih remote televisi. Ketika menekon tombol angka satu saluran televisi swasta, langsung melihat ada sinetron lama yang sudah diulang beberapa kali. Judulnya “Si Doel Anak Sekolahan”. Sinetron ini sepertinya banyak penggemar. Dengan pemain yang mungkin menjadi pujaan waktu itu. Maka pantas televisi bersangkutan sudah berulang kali menayangkannya. Beberapa nama, sekarang itu sudah tua dan ada yang sudah meninggal. Beberapa tokoh juga sudah sakit-sakitan.

Saya bukan ingin mengomentari itu. Pas membuka televisi, tayangan sinetron itu sudah pada cerita rencana permufakatan jahat antara tokoh Mandra dan Karyo. Mandra itu sebagai adiknya Mak Nyak, ibunya si Doel dan Atun. Sejak Subeni –suaminya Mak Nyak meninggal, praktis yang mengoperasionalkan oplet –angkutan adalah Mandra. Karyo itu mengontrak rumah Mak Nyak. Karena tidak ada aktivitas, ia meminta diri menjadi kernek. Nah, suatu waktu, ketika orang tuanya Mandra dan Mak Nyak membeli motor kepada cucunya, Doel, saat itulah Mandra marah. Kesempatan ini dimanfaatkan Karyo untuk menyisihkan penghasilan mereka dari hasil angkut oplet.

Ada hal menarik, bahwa ketika pulang ke rumah, Mandra menyerahkan setoran ke Mak Nyak –yang merupakan kakaknya (mpok, Betawi) dengan suasana batin yang enak. Mandra merasa gagap ketika Mak Nyak menanyakan hasilnya tidak sebesar hari-hari biasa. “Bukan tak percaya sama lo, segini saja sudah alhamdulillah,” begitu kata Mak Nyak. Setelah itu, konflik antara Mandra dan Karyo terjadi. Menurut Karyo, hasil dari oplet itu tidak masalah diambil. Tetapi Mandra bersikukuh, bahwa itu namanya bukan mengambil, melainkan mencuri dan sama dengan korupsi.

Itu memang cerita sinetron, tetapi menurut saya, mereka berhasil menggambarkan betapa Mandra menjadi contoh dari penokohan yang jujur –yang berbeda dengan kenyataan pemeran tokoh tersebut ternyata pernah berkasus kemudian. Orang yang tidak pernah menipu, akan merasa gagap ketika memulai menipu. Akan ada banyak beban ketika ia mulai menipu, walau dengan angka tipuannya sangat kecil.

Bagi saya, kondisi itu tidak terjadi begitu saja. Orang yang bisa hidup jujur telah terbentuk melalui keluarga dan sosialisasi yang jujur pula. Seseorang yang selalu bergejolak ketika menipu, menyolong, mencuri, melakukan korupsi, atau apapun namanya, berarti masih ada sesuatu dalam batin yang menggerakkan untuk menghentikan perilaku tersebut. Hal ini sudah tidak dipunyai oleh mereka yang sering menipu dan menyolong.

Mentalitas inilah yang perlu dibangun. Bahwa seseorang ketika tidak melakukan korupsi dan semacamnya, tidak semata karena hukum melarang, melainkan juga ia merasa itu perbuatan yang tidak lurus lahir-batin, merugikan orang lain, dan membuat hidup tidak tenang. Ketika belum sampai pada taraf ini, yakinilah kita belum bermental antikorupsi atau antipencuri –walau di mulut kita ngomong anti semuanya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment