Belajar dari Laskar Pelangi

Sebenarnya artikel tentang ini sudah saya tulis berkali-kali. Konsep hidup yang membuat orang tidak perlu akan merasa berkekurangan, melainkan akan mendapatkan kebahagiaan dari arah yang tidak diduga. Hal ini sudah tertera daam Kitab Suci, bahwa …

Sebenarnya artikel tentang ini sudah saya tulis berkali-kali. Konsep hidup yang membuat orang tidak perlu akan merasa berkekurangan, melainkan akan mendapatkan kebahagiaan dari arah yang tidak diduga. Hal ini sudah tertera daam Kitab Suci, bahwa memberi sesuatu kepada yang membutuhkan, akan membuka jalan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Tidak perlu ada banyak pertimbangan ketika ingin menyumbang di jalan agama. Bagi orang yang membutuhkan, ketika dibantu justru akan memberikan kita semakin banyak jalan. Tidak perlu ragu untuk langkah ini. Maka konsep untuk memberi sebanyak-banyaknya adalah konsep biasa yang melahirkan imbas luar biasa bagi yang melakukannya.

Konsep ini saya dapat dari satu film. Suatu waktu, ketika melihat satu foto kondisi bekas tambang Belitung, muncul keinginan yang kuat untuk menonton satu film terkenal, “Laskar Pelangi”. Tidak pernah saya menonton film yang berulang-ulang, kecuali film ini. Film ini sendiri diadaptasi dari Novel Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Herata. Novel ini juga satu karya yang saya baca berulang. Tidak berulang begini saya membaca sebuah karya. Memang bila dibandingkan, antara film dan novel ada sedikit perbedaan. Membaca novel, menurut saya, tidak begitu hidup dan mendapatkan potret secara langsung. Peran pembuat film sangat besar untuk membuat isi novel itu begitu enak dicerna.

Cerita penting ini dimulai dari kisah Sekolah Dasar Muhammadyah 02 Belitong. Ada dua tokoh penting yang kemudian menjadi identitas kuat film ini, yakni Harfan Effendy Noor dan  Muslimah Hafsari. Dua tokoh ini bukan sembarangan. Mereka menjadi tokoh yang tidak hanya berhasil mencerdaskan anak bangsa, melainkan juga berhasil membentuk kejujuran dan budi pekerti anak didiknya. Dengan jumlah siswa yang terbatas karena banyak orang tidak tertarik pada sekolah demikian, berhasil disulap menjadi anak-anak yang bermental tangguh.

Dua tokoh tersebut yang selalu mengingatkan bahwa masalah pendidikan tak semata soal intelektual. Keberadaan pendidikan dan lembaganya juga tidak terpisahkan dari upaya pembentukan kejujuran dan karakter. Makanya Harfan Effendy Noor selalu Kepala SD Muhammadyah Belitong, mengingatkan anak-anaknya untuk selalu memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya. Orang yang tidak bisa memberi sebanyak-banyaknya, dan hanya berharap selalu menerima sebanyak-banyaknya, pada dasarnya sedang gagal mendapatkan pelajaran ini.

Saya tidak ingin melanjutkan lebih banyak tentang film. Namun intisari dari itu, kita diingatkan untuk tidak lupa diri bahwa seolah-olah uang akan membawa seseorang demikian mudah mencapai apa yang menjadi tujuan pendidikan. Di sinilah seseorang yang berperan sebagai pendidik harus memakai jiwa dan raganya, terlibat secara utuh lahir dan batin dalam membuat anak didiknya menjadi manusia seutuhnya. Seseorang menjadi pendidik, dengan demikian dilandasi oleh panggilan dari lubuk paling dalam.

Profesi ini sangat mulia. Ketika mendapatkan posisi ini, seseorang harus melibatkan rasa dan hatinya sekaligus. Tanpa memakai keduanya, seseorang tidak akan faham akan memberlakukan anak didiknya seperti apa. Orang akan gamang untuk membawa anak didiknya untuk memahami tujuan sebenarnya dari pendidikan. Maka tidak heran banyak sekali masalah dalam hubungan pengajar dan yang diajar. Korelasi kemudian berubah dari hakikat pendidikan sebenarnya. Disorientasi lalu menjadi satu kenyataan yang menghinggap di depan kita.

Itulah tantangan pendidikan dalam konteks yang luas. Maka ketika muncul seseorang yang berkarakter dan jujur, seorang anak dianggap bermasalah dan dianggap berdampak bagi yang lainnya. Seorang anak yang melaporkan ketidakjujuran, lalu mendapatkan stempel yang paling buruk dalam komunitasnya. Kondisi ini sudah cukup menggambarkan betapa membangun pendidikan sebagaimana diinginkan Harfan Effendy Noor dan  Muslimah Hafsari, sepertinya masih jauh dari harapan.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment