Cukup sering saya ulang-ulang kisah ini. Kisah tahun 2016, ketika seorang tua Aceh yang bernama Mahmud Ibrahim menyelesaikan pendidikan doktornya bidang fikih modern di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Saat ujian terbuka pada tanggal 23 Februari itu, usianya sudah mencapai 86 tahun.
Saya kira Mahmud Ibrahim bukan satu-satunya. Di ujung Eropa, seorang renta yang sudah berusia 91 tahun, menjalani sidang tesis doktoral di University Franche-Comte, Besancon, Prancis, tanggal 15 Maret 2016. Colette Bourlier, namanya, diteguhkan sebagai mahasiswa tertua. Masih ada yang lain di luar Bourlier, masih ada yang lain, yang umurnya juga 91 tahun lebih. Seorang asal Bangka, bernama Hermain Tjiknang, ikut wisuda doktor ilmu hukum tanggal 4 Februari 2014 di Universitas Padjadjaran dalam usia hampir 92 tahun. Di Universitas Indonesia, lulusan doktor ilmu hukum tertua dipegang oleh Mooryati Soedibyo, serta setelah itu, Siti Maryam meraih doktor Universitas Padjadjaran pada usia 83 tahun.
Hal ini menandakan sejumlah orang yang selalu mencari ilmu (formal) hingga tua. Saya yakin, banyak juga yang secara informal atau nonformal menjalaninya. Mereka yang merasa ilmu sebagai bagian penting dalam hidupnya.
Mengenai bidang ilmu yang digeluti masing-masing mereka, mungkin beragam. Namun semangat untuk menuntut ilmu, tidak boleh dianggap ringan, apalagi ilmu yang berkaitan dengan persiapan masa depan, setelah seseorang akan menghadapi finalnya di dunia. Tentu, tidak boleh dianggap sederhana, terutama apabila dibandingkan dengan usia kita yang masih belum cukup dewasa.
Saya pribadi merasa kagum karena di usia saya, berproses dalam menempuh pendidikan sering kembang-kempis. Seperti simulacra yang ketika di atas kadang lupa bahwa suatu waktu ada kekuatan yang menurun. Makanya perlu dijaga ritme dan konsistensi semangat untuk terus belajar ini, dan ini yang jarang kita lakukan, terutama ketika usia masih muda.
Makanya pertanyaan, apa yang akan Anda katakan ketika mengetahui ada orang yang sudah melebihi 80 tahun, bagi saya sungguh luar biasa. Tidak ada kata lain. Butuh energi yang luar biasa untuk bisa menuntut ilmu. Energi yang saya maksudkan tak berarti melulu soal materi. Banyak orang yang secara materi mapan, namun tak mampu menjalani hal ini. Ada hal lain yang tidak kalah penting selain materi, adalah bagaimana kita menjaga untu selalu berusaha menuntut ilmu hingga tak berbatas waktu. Tidak sebatas ketika usia tertentu. melainkan menuntut ketika usia bahkan sudah di ujung badan. Pertanyaannya adalah seberapa bisa kita melaluinya hingga pada akhir hidup kita?
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.