Soal Ngopi

Ngopi, kesannya seperti sesuatu yang sederhana. Terutama untuk orang yang sudah berkomitmen mengikat janji sehidup-semati dengan pekerjaan yang gajinya dibayar oleh kontribusi orang banyak. Maka biasa terlihat, orang-orang sering tidak berada pada tempatnya pada waktu …

Ngopi, kesannya seperti sesuatu yang sederhana. Terutama untuk orang yang sudah berkomitmen mengikat janji sehidup-semati dengan pekerjaan yang gajinya dibayar oleh kontribusi orang banyak. Maka biasa terlihat, orang-orang sering tidak berada pada tempatnya pada waktu yang dibutuhkan. Justru kadang kala akan berada di tempat tugas ketika waktu harusnya sedang istirahat.

Misalnya jika ngopi jam 10, sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk itu. Dari segi produktivitas, jam 10 adalah waktu dimana pelayanan ekstra sedang dibutuhkan. Walau kenyataannya banyak pegawai yang ngopi pada sekitar jam itu. Alasan lain, jam 10 adalah jam tanggung. Bagi yang sudah berkeluarga, biasanya pagi-pagi sudah merasakan kopi atau teh di rumah. Makan pagi sekitar jam 8 kurang, maka selang dua jam saja, sudah ngopi lagi. Itu tidak efisien.

Ironisnya, hidup santai itu terjadi dalam semua lini. Dalam kerja seolah seperti harus ada banyak jeda. Di samping ngopi, ada ngerokok lagi. Wah.

Tetapi, lupakanlah tentang tepat atau tidak. Saya ingin cerita, jam 10 kemarin (Jumat) pagi, bersama seorang sahabat dekat, kami janjian minum kopi di warung kopi terkenal. Saya datang lebih cepat 10 menit. Karena suatu alasan, sahabat saya itu baru datang jam 10 lewat 15. Artinya, ada sekitar 25 menit saya menunggu di sana. Dan Anda memang bisa menduga, banyak orang-orang yang seharusnya berkantor, ada di sana.

Selama 25 menit itu, saya hanya meminum satu gelas air mineral. Pasalnya, tidak ada satu pun pelayan yang datang ke meja saya. Saya duduk di meja yang letaknya paling muka, dengan harapan mudah dilihat dan udara lebih segar.

Ketika sahabat saya datang, kami juga tidak didatangi pelayan –istilah ini mungkin bagi masyarakat tertentu terkesan tidak berkelas. Padahal yang namanya pelayan, adalah mereka yang melayani atau meladeni suatu keperluan –biasanya di tempat yang menyediakan makanan dan minuman. Seorang pelayan adalah mereka yang melayani, menghidangkan (menyajikan, menyuguhkan) makanan atau minum –tergantung jenis apa yang disediakan.

Kedai atau warung adalah tempat di mana salah satu layanan diberikan. Tergantung besar atau kecilnya. Untuk kedai yang tidak besar, mungkin pelayanan dilakukan sendiri oleh pemiliknya. Berbeda dengan kedai besar dengan pelanggan yang banyak, membutuhkan banyak tenaga untuk melayani.

Tugas melayani inilah yang dilakukan pelayan. Jadi dalam konteks ini, melayani terkait dengan kompensasi yang akan diterima pelayan dari pemilik kedai –berupa upah, honor, gaji, atau apapun namanya.

Mungkin, kalau boleh menduga-duga, tidak semua orang nyaman disebut pelayan. Tetapi di warung kopi tadi, kita sebut saja demikian. Saya dan sahabat menyaksikan meja sebelah kami hilir-mudik ditanya pesanan mereka oleh pelayan.

Sahabat saya tanya, apa yang menyebabkan kami tidak dilayani. Sambil tertawa lepas, saya bilang, mungkin di mata mereka, di meja kita tidak ada orang.

Sahabat saya meminum segelas air mineral. Kami letakkan harga dua gelas air mineral di meja, lalu kami pulang. Pun, tidak ada yang menoleh.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment