Kegiatan akademik tertentu, biasanya menuntut para pesertanya untuk menjaga alat komunikasi. Apalagi kegiatan yang berlangsung dibahani oleh orang-orang yang terpandang secara keilmuan. Termasuk acara serupa, seperti pidato ilmiah tertentu, yang panitianya sudah mengingatkan berulang-ulang untuk hal yang sama.
Pengalaman dalam sejumlah acara, bunyi handphone sambung menyambung. Walau panitia sudah mengingatkan sebelumnya. Suara tetap terdengar. Dari satu sudut ke sudut yang lain. Dan pimpinan juga berkali-kali harus menertibkan suara dengan menegur orang-orang yang tidak bisa mengontrol alat komunikasinya.
Entah bagaimana rasanya, ketika berada dalam lingkungan ilmiah, justru harus diingatkan berulang-ulang agar suara alat komunikasi ditertibkan. Pasti agak aneh. Tentu bukan karena tidak paham, melainkan karena tidak mau tahu.
Namun demikian, dalam satu acara pernah menyaksikan suasana yang berbeda. Ada satu orang yang justru ia tidak tahu bagaimana memperlakukan handphone. Ketika dering alat komunikasi terdengar, bahkan dengan suara maksimal, sepertinya ia tidak tahu harus menekan apa. Ada dua kemungkinan. Pertama, bisa jadi alat komunikasi yang dibawa orang bersangkutan bukan miliknya. Kedua, orang yang gagap teknologi, sehingga menggunakan alat ini khusus hanya untuk menerima atau melakukan panggilan saja. Sekiranya tiba-tiba ada bunyi entah apa, ia tidak bisa apa-apa.
Kondisi seperti di atas itu, pernah terjadi ketika sedang acara. Orang yang duduk di depan, dengan bunyi kelas dua, alat komunikasinya berbunyi dengan keras. Karena ia tidak bisa mengontrol, orang ini lalu duduk santai. Orang lain hampir semua mata tertuju ke sana.
Akhirnya, pada waktu itu, pimpinan acara meminta izin untuk diambil alat komunikasi tersebut dititip pada panitia, yang akan diambil setelah acara selesai. Panitia yang mengatur suara dering dan diserahkan alat komunikasi itu ketika acara sudah selesai.
Selesai dari sana, mendapatkan pengalaman yang lain lagi. Shalat di mushalla samping gedung hajatan. Di sini, orang yang bermain-main juga luar biasa. Ada orang tua yang setelah shalat, duduk di deretan paling belakang, saya pikir mau berdoa dengan kusyuk dan menyendiri, akan tetapi ternyata mau membuka handphone untuk memainkan game. Ironisnya, ia tidak memelankan suara, sehingga bunyi dari nada game jelas terdengar dan orang lain melihatnya. Orang ini santai saja, seperti tidak ada apa-apa.
Bisa dibayangkan, ada orang yang paham alat komunikasi, ia bisa tahu orang tua ini sedang memainkan apa. Dengan nada dan layar yang demikian, ini seperti jadi mainan baru yang dilakukan oleh orang-orang yang penuh kesadaran. Seyogianya pengalaman yang demikian membuat kita untuk lebih membangun rasa menghormati, terutama untuk diri sendiri.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.