Dalam khanduri, sering saya lihat orang yang ambil makanan tidak mewakili kebutuhannya. Piring penuh dengan banyak makanan. Hana pat diduek kenek. Begitu kata orang Aceh. Jika diterjemahkan, dalam piring, seperti posisi kenek dalam sebuah bus yang tempat berdiri saja sudah hampir tidak memungkinkan. Untuk kondisi ini, orang Aceh menyebut jumoh. Barangkali, kalau saja ada masing-masing manusia memiliki dua pasang tangan, maka ada orang yang semua tangan berhasil mendapatkan makanan.
Sayangnya, tidak semua minuman dan makanan habis dimakan. Di bawah kursi kita menyaksikan betapa banyak makanan dan minuman yang tersisa di piring-piring dan gelas-gelas, yang tidak mungkin dimakan oleh orang lain. Makanan dan minuman tersebut menjadi mubazir.
Fenomena inilah yang layak diintrospeksi. Karena secara tidak langsung, inilah yang namanya jumoh. Nafsu orang-orang ketika berhadapan dengan makanan pada dasarnya adalah cermin dari sifat seseorang. Orang-orang jumoh seakan-akan mampu menghabiskan banyak makanan. Padahal ketika makan, hanya sebagian saja yang mampu dihabiskan. Nafsu inilah yang tidak mampu dilawan oleh orang-orang yang memiliki sifat jumoh.
Kata jumoh, bisa dijelaskan dengan dua bahasan. Pertama, jumoh dalam makna teks, berarti mulut, moncong. Kedua, dalam konteksnya, jumoh tidak lagi dipahami sebagai moncong, tetapi sebagai suatu perilaku, atau sifat bahkan watak manusia yang berkaitan dengan kerakusan. Sifat dan watak ini tidak berkaitan dengan kemampuan menghabiskan dan sesuai dengan kebutuhan. Sifat dan watak ini pada hakikatnya mengumpulkan.
Begitulah sifat catok bisa terwakilkan dalam watak jumoh seperti ini. Ketika mengumpulkan untuk menjadi miliknya, yang dipertimbangkan bukan lagi kebutuhan, melainkan nafsu.
Dalam upaya memahami jumoh lebih dalam, dapat dipilah lagi ke dalam tiga bentuknya.
Pertama, jumoh dalam maknanya yang umum, misalnya dapat ditemukan dalam kata-kata ”kiban jumoh jih nyan” (lihatlah: bagaimana mulut dia). Sebenarnya, kata-kata ini juga bisa menjelaskan wajah (bukan sekedar mulut).
Kedua, ”juwah that jumoh jih” (ganas sekali wajahnya). Kata jumoh di sini bermakna lebih khusus.
Ketiga, “jumoh that lagoe kah” (rakus sekali kamu kok). Dalam hal ini, jumoh berarti penggambaran.
Ketiga bentuk tersebut, pada dasarnya adalah cermin untuk melihat ke arah mana sebuah kata-kata akan dimaksudkan. Dan kata jumoh sudah lebih lebar dari maksud semula. Pada akhirnya, jumoh tak hanya berkait dengan makanan dan wajah. Jumoh juga terkait dengan banyaknya alat ukur lain.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.