Musibah yang terjadi dalam kehidupan orang, baik dividedu maupun kelompok, pasti menimbulkan berbagai macam komentar dan tanggapan dari berbagai pihak di luar kita. Apalagi kalau bencana yang terjadi di suatu daerah atau negara secara masif. Misalnya ketika ada bencana di negara kita, seperti asap, yang bahkan menimbulkan dampak bagi masyarakat di negara lain, akan menimbulkan berbagai komentar di dalam negeri dan di luar negeri. Mulai dari komentar yang keras dan pedas, hingga tanggapan yang lunak dan dingin.
Apalagi dalam konteks bencana banjir yang terjadi akhir 2025 kemarin, yang hingga kini tidak tuntas dilakukan penanggulangan oleh pemangku kepentingan utama, dalam hal ini pengelola negara.
Ada yang beranalisis hingga berspekulasi, ada yang menganggap sederhana bahwa musibah tak akan ke mana, lalu ada yang menduga sebaliknya, musibah terjadi karena faktor lain, dan seterusnya. Benar bahwa musibah itu selalu disebabkan oleh banyak ragam. Faktor manusia harus dipertanggungjawabkan. Namun menuntut untuk hal yang belum ada kejelasan sebab, justru menampakkan ada muatan kepentingan di dalamnya.
Jika ada korban, ada yang merasa sedih secara terbuka dengan jumlah korban. Apalagi jika korban yang timbul dari bencana, justr lebih besar dari yang sudah diberitakan dalam media-media. Informasi yang terlambat bagi korban, harus kita cerna juga dari kondisi yang sebenarnya. Semua harus diterima dan menggunakan jiwa.
Bagi orang-orang yang dekat, akan mendapatkan psikologis yang lain, dengan orang-orang yang menjadi korban, susah dihubungi oleh keluarga dan pengelola. Dengan kondisi ini, tidak mungkin seseorang yang belum jelas, diumumkan. Mungkin hal ini menjadi alasan mengapa tidak langsung diinformasikan.
Bayangkan memberitahu kondisi orang yang belum jelas, tentu akan dipertanggungjawabkan oleh mereka yang menginformasikannya. Pertanyaannya adalah mengapa? Identitas yang terpisah dari jasad, juga tidak boleh dilupakan. Seseorang yang menjadi korban, identitasnya tidak lagi di tubuh, menyebabkan beberapa waktu dibutuhkan untuk mengungkap identitasnya. Semua kondisi tersebut harus dipahami, walau bukan berarti melupakan bahwa penanganan cepat dalam kondisi demikian, harus dilakukan.
Sangat penting memperhitungkan sarana-prasarana yang mendekatkan kita pada kondisi yang sigap terhadap sekecil apapun terjadinya bencana. Entah faktor manusia ataupun faktor bukan manusia, menangani dengan berbagai cara harus sigap dengan segera.
Jika ada orang memvonis faktor penyebab bencana tertentu di tengah hiruk-pikuk kekacauan dalam penanggulangannya, jelas bukan tindakan arif. Tidak elok mengondisikan di awal bahwa seolah faktor manusia adalah satu-satunya. Namun untuk kepentingan tertentu, faktor manusia atau bukan sangat mudah dikondisikan. Namun mempermasalahkan sesuatu yang belum tentu karena kesalahan, akan ditanggung oleh siapa bila menunjuk ke arah yang salah.
Kasus semacam ini saya kira memang mengundang banyak perhatian. Apalagi yang terjadi dengan konflik antar manusia. Bencana yang telah menyebabkan opini melebar ke mana-mana, pasti akan menimbulkan dampak psikologi yang lain lagi.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.