Apa yang menyebabkan seseorang, orang tua atau orang-orang yang dituakan, tega melakukan sesuatu yang menyakitkan terhadap anak? Sesuatu yang menyakitkan itu, bisa dalam bentuk fisik, bisa dalam bentuk nonfisik. Secara fisik, orang bisa langsung menangkap bagaimana bentuknya. Namun untuk yang nonfisik, orang bisa saja masih meraba-raba.
Dalam ruang sosial, orang bisa melakukan apapun terhadap orang lain, namun tidak dengan kata-kata. menggunakan bahasa tubuh, bisa saja akan membuat orang-orang sekitar kita menjadi terluka. Jangan anggap remeh untuk perilaku nonverbal semacam ini. Duka psikologis yang ditimbulkan bagi anak, misalnya, akibat perilaku orang tua yang menggunakan bahasa tubuh, akan tersimpan dalam waktu yang lama dalam tubuhnya.
Rasa sakit bagi seseorang, turut berbeda antara fisik dan nonfisik. Kekerasan fisik bisa dirasakan sebagai satu bentuk, yang nonfisik juga bisa dirasakan sebagai bentuk yang lain. Kita mencubit atau memukul seseorang yang dirasakan secara fisik, tentu berbeda yang dirasakan, dengan orang yang merasakan disakiti jiwanya. Orang yang dimarahi dengan kata kasar, apalagi itu dilakukan di depan orang lain, juga memiliki rasa sakit tersendiri. Intinya sama, sebentuk kekerasan yang seharusnya dihindari.
Orang tua, atau orang-orang yang dituakan, sudah saatnya menjadikan anak sebagai tempat membagi jiwa, bukan tempat menumpahkan kekesalan. Bedanya jauh antara membagi jiwa dan menumpah kekesalan. Seperti membedakan antara mengasihi dengan memaki; memberi sayang dengan menumpah kepedihan. Dan sekarang kita merasakan betapa seolah kepedihan itu melebihi berita-berita rasa sayang.
Banyak berita miris yang berkembang, dulu, seolah terasa jauh sekali dari tempat kita. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Anak, merasakan kebiadaban yang berkali-kali. Sebagian –atau malah mungkin seluruhnya—dikreasikan dan dilakukan oleh para dewasa. Orang-orang dewasa memperlakukan anak demikian rusaknya. Kita harus ingat, apa pun yang terjadi, bahkan dalam kejadian yang penuh kelaliman, itu akan menggambarkan peradaban kita –sebagai wujud dari mentalitas.
Bagaimana kita memperlakukan anak, merupakan wajah kita. tidak soal berapa jumlah anak yang menjadi korban. Kita harus ingat, semisal rumus membunuh yang diingatkan dalam al-Quran, membunuh satu orang yang tidak bersalah sama dengan membunuh semua orang. Jadi memperlakukan anak secara tidak semestinya, tidak soal satu anak atau berapa anak, maka itu sama dengan memperlakukan semua anak. Konon lagi jumlahnya tidak satu.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.