Hiduplah dengan Menghargai Rasa Publik

Suatu kali saya bertanya kepada mahasiswa saya di kelas mata kuliah. Pertanyaan saya sederhana, dimulai dengan “mengapa setiap ada pengumuman untuk bergotong royong, kita harus menyahutinya dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat?” Pertanyaan ini lalu bergeser …

Suatu kali saya bertanya kepada mahasiswa saya di kelas mata kuliah. Pertanyaan saya sederhana, dimulai dengan “mengapa setiap ada pengumuman untuk bergotong royong, kita harus menyahutinya dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat?”

Pertanyaan ini lalu bergeser kemana-mana. Misalnya, apa pentingnya gotong royong dalam kehidupan kita? Apakah memang dalam setiap gotong royong akan menyelesaikan banyak hal yang ingin dikerjakan dalam ruang publik? Jangan-jangan yang diselesaikan lewat gotong royong justru lebih sedikit dibandingkan ketika dikerjakan oleh masing-masing?

Mahasiswa memiliki pandangan yang berbeda. Tetapi soal satu pandangan tentang efektif dan efisien, sangat menarik didiskusikan. Satu mahasiswa berpandangan bahwa dari segi kuantitas kerja, ketika hadir ke gotong royong tidak semua orang bekerja dengan baik. Sebagian mereka asal hadir dalam ruang publik. Bukankah dalam kondisi demikian, tujuan kerja bersama itu menjadi minim capaian?

Hal ini tentu saja menarik. Apalagi dalam masyarakat berkembang pameo, gotong royong, ladom duek, ladom dong. Ketika ikut royong, kita menyaksikan ada yang duduk-duduk saja, atau malah berkelompok-kelompok berdiri sambil ngobrol.

Keadaan semacam ini yang sering dikalkulasi oleh orang-orang. Ada pandangan lain yang harusnya menjadi catatan, bahwa setiap pertemuan dalam ruang publik, selalu ada makna lain –yang tidak semata soal kerja bersama. Ada kepentingan untuk kerja sama dalam menyatukan solidaritas dalam kehidupan sosial mereka.

Dengan saling bertemu, pada dasarnya akan membuat sesama saling mengenal. Dengan demikian memahami masing-masing kondisi termasuk latar belakang budayanya. Idealnya ketika memahami yang demikian, akan punya cara dalam berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang yang berlatar belakang budaya yang berbeda.

Dengan demikian, tidak semua orang mau dan mampu dengan nilai-nilai yang dianggap tidak efektif dan efisien. Ingin berbuat sesuatu, mencapai target satu hal, haruslah dicapai dengan cara-cara yang cepat dan mudah. Semua masalah yang terkait dengan tali-kelindan jiwa manusia, dilupakan begitu saja.

Banyak hal dianggap sudah menghambat efektivitas dan efisiensi. Sekiranya bisa melakukan sesuatu dengan seorang atau beberapa orang saja, yang demikian dianggap lebih efisien ketimbang banyak orang yang datang, tetapi yang kerja orang-orang itu juga.

Dalam kasus demikian, kebersamaan sering dibenturkan dengan efektivitas dan efisiensi. Padahal soal hidup, tidak melulu soal efektif atau efisien. Banyak hal yang berdasar kebersamaan, justru mempermudah banyak hal lain dalam waktu yang berbeda. Barangkali untuk waktu tertentu, capaian tersebut tidak langsung terasa manfaatnya, akan tetapi untuk waktu yang lama, kebersamaan menjadi salah satu faktor penting dalam pencapaian kebahagiaan manusia.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment