Salah satu bangsa yang saya pikir ketika melihat status-status tentang makanan, adalah Palestina. Bangsa dengan sisa dan sedang terus diperangi, dengan keadaan masyarakatnya –terutama anak-anak yang semangat luar biasa. Bahkan ketika sedang gencatan senjata pun, Israel laknatillah masih terus memerangi sipil Palestina. Israel memerangi rumah sakit dan orang yang ada di dalamnya, mereka membunuh perempuan, anak-anak, hingga tua renta. Saya percaya bahwa semangat mereka terbentuk karena kecintaannya terhadap agama yang luar biasa. Menjadi tameng untuk menjaga masjid penting yang ada di Palestina. Dengan wajah yang cemong —bahkan berdarah-darah— tidak semua anak mendapatkan makanan dengan baik.
Alasan itulah, makanya sangat arif, jika status tentang makanan harus dihindari. Bukan soal mereka tidak lihat status kita. Posisi ini terkait soal bagaimana kita belajar memberi empati tiada henti, termasuk kepada bangsa-bangsa yang terus diperangi oleh bangsa lain.
Keadaan serupa di luar Palestina, juga ditemui sejumlah tempat. Bukan karena perang, melainkan karena keadaan ekonomi yang berkekurangan. Saya kira tidak semua anak Aceh mendapatkan makanan untuk berbuka puasa secara layak. Tidak semua. Kemampuan dan daya beli yang berbeda-beda membuat sebagian berbuka dengan menu apa adanya. Apalagi dalam kondisi bencana, yang membuat sekitar 18 kota dan kabupaten berdampak hebat. Kebutuhan mereka terhadap hak-hal pokok, idealnya harus terpenuhi dengan baik. Realitas tidak demikian. Mereka harus berjuang sendiri untuk bahan pokok.
Apa pun terjadi pada bangsa kita maupun di luar sana, empati itu sangat penting. Walau dalam realitas selalu terlihat kontras. Sebagian anak bangsa kita memperlihatkan keadaan sebaliknya. Dengan rasa peduli yang di titik nadir, anak-anak bangsa bergembira secara berlebihan di depan meja makan —sebagiannya cepat saji.
Bukan hanya soal ketersediaan makanan itu, akan tetapi juga pada cara kita makan dengan cara yang kadang-kadang berlebihan. Pada kondisi seperti sekarang, sepertinya butuh empati untuk memikirkan banyak anak bangsa lain yang tidak seberuntung kita yang bisa duduk dengan gembira di depan meja makan.
Alasan itulah, ketika melihat status-status media sosial terkait makanan —atau sedang makan— sungguh membuat miris. Kita seperti sudah nir empati. Walau dalam lingkungan media sosial, hal tersebut pun tidak mengherankan. Kita belum mampu menahan diri untuk pamer. Saat ke pasar atau tempat yang menjual makanan pembuka, seolah semua ingin kita beli. Ingin rasanya semua ada di rumah. Lalu sejumlah foto orang-orang yang sudah berbuka, yang dibagi-bagikan, terlihat tidak mengenakkan. Kelelahan makan waktu berbuka. Berlebihan. Sesuatu yang diingatkan, tidak boleh kita lakukan. Kita harusnya berhenti makan sebelum perut penuh dan sesak, agar kita mudah beraktivitas.
Untuk hari-hari awal, banyak aktivitas yang berlangsung normal. Sebagaimana keinginan kita ingin melaksanakan banyak hal di bulan suci ini. Namun seiring stamina untuk itu tidak kita rawat, sehingga apa yang ingin kita laksanakan sepanjang bulan Puasa, tiba-tiba berhenti di hari-hari awal. Jika kita analogi ke sepak bola, kita sudah banyak kalah sejak di menit-menit awal pertandingan.
Ada satu fenomena menarik yang terjadi di sejumlah tempat. Barangkali di tempat Anda juga berlaku demikian. Ada perubahan jumlah jamaah yang signifikan di sejumlah masjid dan meunasah. Saya sebut sejumlah disebabkan ada masjid yang meunasah yang jamaahnya sudah stabil. Baik bulan Puasa atau bulan yang lain, jumlah jamaahnya sudah tetap. Sudah mantap. Sedangkan banyak tempat yang lain tidak demikian. Peningkatan tampak. Hal yang kemudian tergambar, betapa pada kondisi demikian, tempat shalat seperti harus diperbesar. Terutama di hari-hari awal. Di masjid kami, sejak semalam, sudah kembali seperti keadaan biasa sebelum Puasa.
Di samping itu, pengalaman lainnya, sejak hari pertama shalat tarawih, jumlah kaum ibu lebih banyak dari kaum bapak. Saya pernah shalat di masjid yang tidak terlalu besar. Dalam setahun terakhir, ada posisi arah kiblat yang diukur kembali. Hal ini menyebabkan jumlah tempat ketika diatur shaf menjadi sedikit berkurang. Maksud berkurang tentu ketika dalam suasana puasa, atau shalat tertentu. pengalaman saya di tenpat itu, kondisi yang penuh itu, selain puasa, adalah shalat hari raya, dan shalat tertentu seperti shalat gerhana atau shalat istisqa’. Selebihnya belum pernah saya lihat penuh. Jadi di sini jelas terlihat, bagian halaman belakang, harus gelar karpet tambahan karena jamaah lebih banyak dari kapasitas.
Fenomena demikian juga sama di beberapa tempat. Masjid terisi maksimal hanya saat momentum tertentu saja. Tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. Ironisnya, ketika ada alasan lain yang sifatnya sangat materil, orang berlomba-lomba datang. Tentu ada alasan yang bisa dijelaskan dari berbagai aspek, namun alasan ini biarlah masing-masing pembaca saja yang mereka-reka sendiri. Sayangnya jika masjid ternyata dibangun makin megah di banyak tempat, namun hanya terisi sedikit saja ketika shalat jamaah. Kita bisa menyaksikan sepanjang jalan, kita temui masjid-masjid megah yang sudah selesai atau sedang dibangun. Berbagai kondisi ini penting untuk jadi bahan renungan secara mendalam bagi kita semua.
Menariknya, sejumlah masjid perkotaan justru seperti berlomba-lomba memakmurkan (jamaah), dengan berbagai fasilitas yang mereka sediakan. Kreativitas sangat penting. Pengelolanya berusaha menghadirkan sejumlah daya tarik, agar jamaah nyaman dan tidak berkurang. Usaha demikian banyak yang berhasil. Banyak tempat ibadah yang sudah bisa mengontrol jumlah jamaahnya, atau bahkan terus bertambah dari waktu ke waktu.
Ada yang menguat, ada yang mengendur, saya teringat seperti dalam pertandingan sepak bola, di mana banyak tim tampak begitu bersemangat dan hanya luar biasa di menit-menit awal, namun sering lengah saat dimulai atau lebih lengah ketika dimenit akhir pertandingan. Tak jarang, pada menit-menit yang menentukan, banyak tim yang kehilangan fokus dan arah secara tiba-tiba. Mereka justru merasakan kekalahan menyakitkan di menit-menit akhir itu.
Masalahnya adalah kelengahan itu disadari sejak awal. Seharusnya kita sudah mempersiapkan tenaga ekstra untuk mengantisipasinya kelengahan itu. Ada tenaga yang disimpan, taktik yang diracik agar hingga menit akhir pun, selalu siap sedia.
Kondisi terakhir itulah yang diterapkan oleh tim-tim tangguh. Masjid yang belajar dari tahun-tahun sebelumnya, mereka terus berbenah menyiapkan diri. Dengan belajar dari pengalaman masa lalu, mereka lalu memperbaiki kondisi mereka di masa sekarang dan yang akan datang. Begitulah seharusnya. Hal demikian selalu harus menjadi renungan. Bahwa ketika bulan Puasa menyediakan kompensasi lebih besar justru pada hari-hari terakhir, menggambarkan bahwa stamina untuk hari-hari akhir itu harus disiapkan. Masalahnya, mungkin tidak semua kita mempersiapkannya dengan baik.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.