Istilah penjual diri, mungkin agak kasar. Ada perbedaan pendapat mengenai siapa sesungguhnya yang menjual diri. Sebagian menyebut, penjual diri hanya untuk mereka yang menjual tubuhnya dengan kompensasi sejumlah uang tertentu. konteks menjual yang demikian, selama ini juga dihaluskan dengan istilah pekerja seks. Sebutan pekerja menandakan ada posisi khusus yang ingin disebutkan sebagai profesi.
Perilaku yang demikian, dalam masyarakat dianggap sangat rendah. Masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh, tanpa harus menggadai tubuh. Bahkan ada orang yang memosisikan mereka yang terlibat dalam penjual diri semacam ini, harus dibersihkan dari masyarakat. Walau ada yang menyebut profesi, selain rendah, profesi penuh dosa ini sangat kotor dipandang dalam masyarakat.
Sebutan lain untuk penjual diri, tidak dalam konteks tubuh sebagaimana di atas, melainkan lebih bermakna konotatif sebagai upaya untuk mencari keuntungan tertentu melalui pemasangan gambarnya dimana-mana. Orang-orang yang ingin kuasa tertentu, lalu menempel gambar dimana-mana, yang proses itu membutuhkan modal tidak sedikit, disebut juga sebagai penjual diri.
Makna yang disebut terakhir ini, memberi gambaran betapa pilihan semacam ini juga bukan jalan terbaik. Orang-orang yang meminta-minta kuasa atau meminta dipilih agar mendapat suatu kuasa, dianggap layak berada dalam terminologi kedua ini.
Akan tetapi perkembangan sedang gegap gempita sebaliknya. Orang-orang sedang muncul di mana-mana dengan menawarkan dirinya kepada publik. Salah satu medianya melalui baliho. Di kota ini, tidak banyak papan baliho besar. Dari beberapa ruas jalan, deretan baliho bisa dihitung dengan jari. Karena sedikitnya baliho, maka munculnya foto orang tertentu di baliho, langsung bisa dilihat jelas oleh orang yang lewat. Orang dahulu, ketika saya masih kecil, bukan menyebut foto, tetapi gambar.
Menurut orang dulu, tidak semua gambar layak dan bisa dipajang dengan bebas. Orang yang memasang gambar, sudah dianggap aneh –bahkan tidak jarang memiliki arti tertentu bagi mereka. Berbeda dengan sekarang, bahwa foto atau gambar sudah menjadi salah satu media berkomunikasi. Sehingga siapa pun yang ingin melakukan apapun, termasuk ingin memperkenalkan dirinya, akan memasang dirinya dalam baliho.
Sekarang ini juga tidak masalah lagi orang yang muncul di baliho, terutama mereka yang memiliki kuasa dan memiliki sumber keuangan. Orang yang atas nama kuasa, bisa memasang baliho dengan alasan yang beragam. Ada program pemerintah dengan anggaran, ada juga kepentingan sosialisasi tertentu –yang ujungnya juga dikait dengan keberhasilan program pemerintah itu sendiri.
Ada banyak orang memasang foto dirinya di baliho. Sebagian besar dengan menggunakan dana rakyat. Kepentingannya sangat praktis: bagian dari menjual diri –dalam kontestasi politiknya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.