rehabilitasi terhadap fisik sama harus dipandang sama pentingnya dengan rehabilitasi mental. Kawasan yang tak memperhatikan hal ini dengan serius, menghadapi musibah besar. Banyak orang yang bermasalah secara mental. Dengan demikian, rehabilitasi fisik pun akan kurang nilainya.
Permasalahan mental yang sangat kentara tampak ke permukaan pada satu daerah konflik adalah kecemasan. Orang-orang di tempat terjadi musibah, selalu merasa musibah akan datang lagi. Teriakan keras akan membuat mereka terganggu. Di samping itu, ada pula yang seperti tak mengenal dirinya. Ini adalah gangguan-gangguan yang terjadi pascatsunami.
Bila banyak anak mengalami hal seperti ini, maka lupakanlah mendirikan banyak sekolah. Karena memang tak ada gunanya. Tapi, membangun sekolah harus bersamaan dengan membangun psikologis anak-anak bangsa di Aceh.
Pertanyaan bagaimana membangun kembali pendidikan di Aceh pascagempa dan tsunami, waktu itu tetap menjadi penting. Begitu pentingnya pendidikan dipikirkan pada daerah bencana, dapatlah dipahami. Ada kesepakatan universal yang menyatakan bahwa keadaan bagaimana pun, pendidikan terhadap anak tak boleh berhenti. Keadaan krusial, seperti konflik dan perang, lalu bencana alam, dan sebagainya, tidak boleh menghalangi anak-anak untuk mendapat pendidikan dengan baik. Di Acehlah, waktu itu diuji; konflik yang melahirkan perang, dan ada bencana dahsyat.
Pada masa konflik, sebanyak 47 orang korban guru yang terbunuh dengan dua profesor. Belum lagi sebanyak 655 sekolah, mulai SD, SMP, SMU, dibakar. Terjadinya bencana, menambah daftar kerusakan sekolah di Aceh –sebanyak 1.626 gedung telah hancur, rata dengan tanah. Sekitar 2.500 guru dan tenaga pengajar yang meninggal dan hilang karena bencana tsunami. Di dalamnya, terdapat juga 200 guru berprestasi; mereka adalah peserta program penulisan bahan ajar Matematika dan Sains, Bahasa Inggris, dan Agama, yang sudah dan akan mengikuti pendidikan di sejumlah kampus di negara Malaysia (Kompas, 10 Januari 2005).
Dengan berbagai alasan tersebut, menyadarkan banyak pihak bahwa masyarakat Aceh sudah lama kehilangan bentuk aslinya yang ramah. Konflik berkepanjangan telah membentuk masyarakat Aceh sebagai masyarakat yang curiga. Satu sama lain, seperti tak saling kenal. Belum lagi tamu-tamu yang datang, kalau tak dikenal, tak ada yang mau berkomunikasi, atau paling tidak menanyakan tujuan. Selama puluhan tahun, masyarakat Aceh terbentuk dengan suasana yang menakutkan. Padahal, asli budaya masyarakat Aceh adalah budaya yang memuliakan tamu. Tapi dalam masa konflik, memuliakan tamu menjadi bukan pilihan terbaik.
Barangkali, di antara jutaan hikmah yang lain, kekayaan budaya juga menjadi salah satu yang kembali ke Aceh. Orang-orang sudah saling menyapa satu sama lain –walau tak dikenal sekalipun. Musibah, tentu bukan keinginan, membawa nuansa aslinya bagi masyarakat Aceh.