Terima Kasih Wahai Orang Baik

Saya berjumpa sejumlah orang di lapangan yang berlatar belakang pegiat media sosial. Mereka mengunjungi tempat dan korban bencana. Saya tidak ingin bicara motif. Secara positif, saya ingin menyampaikan terima kasih untuk semua orang yang datang …

Saya berjumpa sejumlah orang di lapangan yang berlatar belakang pegiat media sosial. Mereka mengunjungi tempat dan korban bencana. Saya tidak ingin bicara motif. Secara positif, saya ingin menyampaikan terima kasih untuk semua orang yang datang untuk melihat dan menyapa korban bencana. Terima kasih juga untuk semua yang mendoakan dari jauh, yang tidak mungkin menyaksikan dan berkunjung secara langsung. Di lapangan, dalam sejumlah kesempatan, saya juga berjumpa dengan profesi lain: aktivis kemanusiaan, politisi, birokrat, hingga masyarakat biasa. Ada di antara mereka yang saya kenal dan saling kenal, namun sebagian besar, orang-orang yang pernah saya lihat di berbagai ruang dan media.

Idealnya, memang tidak ada saling cerca. Semua orang yang datang ke lokasi bencana, harus mengedepankan kemanusiaan. Toh, dalam etika bencana, juga diatur seperti itu. Secara moral, kita dituntun untuk menjaga bahasa (kata-kata) dan perilaku. Jangan sampai karena gara-gara membawa bantuan, lantas mencerca orang-orang lain yang tidak bawa bantuan. Mereka yang membawa dengan jumlah besar, tidak boleh mengejek orang-orang yang membawa semampunya. Apalagi, sangat tidak boleh menganggap dan memperlakukan korban sebagai orang-orang yang dalam posisi dikasihani. Etika bencana, moralitas kemanusiaan, mengaturnya seperti itu.

Orang-orang yang membawa sesuatu, tidak boleh karena alasan sesuatu. Rumusnya begitu. Di daerah yang beragama tertentu, tiba-tiba datang dari agama lain, membawa bantuan untuk kepentingan agamanya. Semua agama. Jika saat ini terjadi di daerah yang dominan agama tertentu, atau suatu saat terjadi di daerah yang beragama lainnya. Tidak boleh. Demikian juga, alasan yang sama termasuk untuk kepentingan politik, dan sebagainya.

Martabat para korban harus dijaga. Tidak boleh diruntuhkan hanya gara-gara ada orang lain yang datang membawa bantuan yang dibutuhkan. Secara moral diatur bagaimana orang-orang yang ingin membantu, memegang kemanusiaan sebagai sandarannya. Termasuk para public figure, yang idealnya tidak memperlakukan para korban bagi kepentingan eksistensi mereka. Mudah-mudahan tidak ada para konten kreator, menjadikan amplop bagi korban bencana sebagai bahan bagi kontennya. Sama sekali tidak boleh.

Sejumlah hari yang lalu, debat lain ada di televisi. Konten kreator masuk ke daerah pedalaman bencana, lalu mempertanyakan mengapa pemerintah belum sampai hingga tempat terpencil, tetapi pertanyaan ini direspons oleh politisi tertentu secara berbeda. Mereka memahami apa yang dilakukan publik figure justru sebagai upaya menjatuhkan martabat pemerintah. Padahal dalam kacamata positif, semua pihak bisa introspeksi. Semua orang harus lega. Berterima kasih kepada semua informasi yang disampaikan ke ruang publik. Bisa jadi belum ada informasi tertentu dari tempat yang tidak terjangkau. Maka kita berterima kasih jika sudah ada pihak yang sudah bisa menjangkau tempat tersebut.

Ada orang-orang yang berusaha keras mendapati keadaan korban hingga ke pelosok, sudah selayaknya diucapkan terima kasih.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment