Kebutuhan

Apakah pernah muncul pertanyaan di benak kita, sebahagia apa kita melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita? Bisa jadi. Realitasnya, bagaimana perasaan itu hadir, terwakilkan lewat perilaku saat kita berhadapan dengan yang bersangkutan. Orang yang …

Apakah pernah muncul pertanyaan di benak kita, sebahagia apa kita melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita? Bisa jadi. Realitasnya, bagaimana perasaan itu hadir, terwakilkan lewat perilaku saat kita berhadapan dengan yang bersangkutan.

Orang yang membentak-bentak saat membantu orang lain, masih dipertanyaan dengan rasa ini. Mereka yang melakukan tugas, namun berusaha mengulur-ulur waktu, juga cermin dari mereka yang tidak bahagia.

Begitulah. Barangkali kita memiliki pengalaman melihat orang yang melakukan sesuatu dengan perasaan yang terpancar dari wajahnya. Kata orang-orang, wajah itu tidak bisa ditipu. Orang yang senyum ikhlas, dengan mereka yang pura-pura senyum, selalu bisa dibedakan. Demikian juga mereka yang melakukan sesuatu dengan santai senang dibandingkan dengan mereka yang melakukan sesuatu karena di bawah tekanan tertentu. Sesuatu yang kita lakukan, sering berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Makanya dalam hal ini, apapun yang berkesempatan untuk melakukan sesuatu, harus selalu disyukuri. Mereka yang bertani harus selalu bersyukur dengan aktivitas bertani, karena bisa jadi banyak sekali orang yang ingin bertani, tetapi terhambat oleh banyak faktor, misalnya tanah, atau airnya yang tidak lancar.

Selalu didukung oleh kenikmatan yang ada, orang lantas bisa melakukan sesuatu. Pergi ke laut, karena selain dekat dengan laut, juga memiliki kemampuan untuk mengambil sumber daya yang ada di dalamnya. Inilah kesempatan yang berpadu dengan semangat orang melakukannya. Ada orang yang dekat dengan laut tidak melaut, atau mereka yang dekat dengan pertanian tetapi tidak bertani. Mereka hanya duduk-duduk saja tidak mendapatkan apa-apa. Orang yang demikian berbeda dengan mereka yang melakukan sesuatu. Secara mendalam, maknanya bisa dua. Pertama, mereka akan mendapatkan sesuatu untuk dirinya. Kedua, mereka bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Hasil pertanian atau hasil laut dibutuhkan oleh mereka yang tidak berada pada kawasan tersebut.

Dengan demikian, orang yang melakukan sesuatu itu tidak sebatas hanya karena kebutuhannya, melainkan juga ingin menutupi berbagai kebutuhan orang lain yang membutuhkan. Pada kondisi inilah, ada orang yang memunculkan rasa bahagia melakukan aktivitasnya dengan sempurna, ada yang dengan terpaksa. Sebagian hanya merasa karena membutuhkan uang. Sebagian lagi, disamping membutuhkan uang, juga ingin memberikan makna sesuatu bagi orang banyak. Efek yang dipantulkan dari dua wajah itu akan berbeda sekali. Orang tidak boleh abai pada apa yang akan dipantulkannya.

Bekerja dengan sepenuh hati pada target yang lebih besar tersebut, kerap akan memunculkan semangat yang lebih. Wajahnya akan memancurkan rasa senang. Melakukan sesuatu dengan perasaan senang, akan melahirkan hasil yang luar biasa pula. Orang yang berkarya karena ingin melakukan sesuatu untuk tujuan yang lebih besar, melakukannya dengan perasaan senang, hasilnya akan berbeda dengan mereka yang melakukannya dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Itulah bedanya.

Kita akan memilih yang mana? Sekiranya mau, pilihlah yang kedua itu, masuk dalam rombongan orang yang melakukan sesuatu dengan segenap jiwanya. Melakukan sesuatu karena merasa tidak saja untuk menutupi kebutuhan sendiri, melainkan juga kebutuhan orang baik. Orang-orang mudah-mudahan juga akan mendapatkan rasa bahagia karenanya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment