Awan

Jika ditamsilkan bumi dan awan, berbagai profesi sedang dihinggapi semangat selalu mencapai awan dengan tidak melupakan bumi. Sesederhana apapun profesi, sudah menggunakan jaringan teknologi informasi dan komunikasi. Alat teknologi dijadikan jembatan untuk membantu berbagai kebutuhan …

Jika ditamsilkan bumi dan awan, berbagai profesi sedang dihinggapi semangat selalu mencapai awan dengan tidak melupakan bumi. Sesederhana apapun profesi, sudah menggunakan jaringan teknologi informasi dan komunikasi. Alat teknologi dijadikan jembatan untuk membantu berbagai kebutuhan mereka dalam berusaha. Dan itulah yang terus terjadi dan berkembang di sekeliling kita.

Perkembangan ini tidak seperti kita ketuk pintu orang lain. Saat membutuhkan bantuan, kita akan menoleh kanan-kiri. Kenyataannya, banyak wilayah yang sudah memiliki jaringan komunikasi, berbagai fasilitas sudah tersedia, sedemikian rupa. Saat terjadi sesuatu, kita hanya perlu masuk ke program tertentu di alat komunikasi yang kita pakai, lantas silakan memanggil berbagai fasilitas yang tersedia itu.

Orang tidak memperkirakan bahwa fasilitas bisa disalahgunakan. Orang-orang yang ingin melihat kebiasaan orang lain, dengan keseharian dan fasilitas yang dipakai, apa yang dilakukan bisa terus dipetakan. Namun di luar itu, manfaat positif tidak terhitung.

Ada hal yang harus diselesaikan secara manusiawi, terkait dengan sebagian orang yang belum beralih dari yang manual ke teknologi. Alasannya berbagai macam. Tidak ingin melihat apa alasan mereka, namun fakta ini juga harus disikapi secara arif. Mereka yang tetap ingin di bumi, tanpa sedikit pun punya keinginan menyentuh awan.

Saat ada demo sopir di beberapa tempat, bagaimana seyogianya mereka diperlakukan, harus dipikirkan. Mereka yang berusaha di jalur transportasi, berbasis manual dan berbasis online. Ada sejumlah pihak yang terkait. Kementerian Perhubungan, Kementerian Informasi dan Komunikasi, hingga mereka yang suatu saat akan terlihat dalam proses legislasi dan regulasi.

Jika ditelisik lebih jauh, para sopir yang demo tidak hanya sopir taksi, melainkan juga didukung oleh sebagian sopir angkutan kota. Memang tidak semua perusahaan taksi ikut serta. Tuntutan mereka bagi saya sederhana, agar semua proses yang dilalui taksi berbasis online sama dengan yang dilalui oleh taksi mereka. Namun arena diskusi melebar, tidak hanya soal kehendak sama itu. Sebagian mempermasalahkan perkembangan digital.

Saya sendiri tak hendak mempermasalahkan digital itu. Bahwa suatu perkembangan itu berlangsung ke depan. Dari berbagai tahapan yang dilalui dunia transportasi, perkembangan untuk terus maju adalah sesuatu yang niscaya. Masalahnya adalah semaju apapun, syarat yang ditentukan tidak boleh diabai. Keamanan menjadi faktor penting dan tidak hanya berorientasi pada kemudahan semata. Dalam hal ini, potensi masalah juga besar. Walaupun dalam kasus taksi online, bahwa identitas kendaraan bukan tak tersedia. Jadi menurut saya, terlalu sederhana apabila kemudian masalah dikotakkan hanya sebagai pertarungan antara kepentingan digital dan konvensional.

Seperti ada persaingan yang kurang adil, dan itu yang memicu ke arena konflik yang lain. Ia menjalar ke banyak tempat. Ada sopir taksi yang kemudian membuat masalah dengan ojek berbasis online, lalu ada kelompok ojek itu melakukan pembalasan dengan menyisir sopir taksi. Ada yang digebuk dan ada yang berhasil lari.

Suatu kali, ketika terjadi demo, di layar kaca, sedih melihat sesama sopir taksi sendiri juga saling menghantam, terutama mereka yang tidak ikut unjuk rasa. Beberapa taksi rusak, dan sopirnya diperlakukan tidak layak –dan itu terlihat dari televisi.

Di tempat lain juga terlihat bagaimana para oknum sopir juga menghentikan jalan umum semena-mena. Membakar ban di tengah jalan dan itu menganggu orang lain. Hal demikian tidak seharusnya terjadi dan malah menimbulkan rasa tidak simpati publik terhadap mereka. tetapi kondisi psikologis yang mungkin membuat sebagian mereka bisa melakukan itu semua.

Semua ekses yang timbul ini tentu saja bukan tiba-tiba –sekali lagi tak bisa disederhanakan sebagai masalah digital dan kovensional. Ada masalah substansi yang harus diselesaikan, yakni adil dalam berkompetisi. Di sini sebenarnya ada ruang untuk menyelaraskan kedua kepentingan (digital dan konvensional) itu. Mereka yang memiliki transportasi konvensional, silakan bertarung dengan memakai aplikasi apapun. Namun mereka yang memakai ruang digital, juga tidak boleh meninggalkan apa yang dipersyaratkan.

Seyogianya hukum –sebagai salah satu yang seharusnya mengambil peran dalam mempertemukan tersebut, kenyataannya sering tertinggal. Berbagai peraturan perundang-undangan, ketika diversuskan dengan perkembangan industri –terutama digital—maka hukum tertinggal sangat jauh. Industri melaju kencang dan terus berlari ke depan.

Kenyataan demikian, sudah seharusnya membuat kita semakin bersahaja. Kewajiban kita berusaha, lalu di depan mata, berbagai hambatan dan tantangan terhampar. Jangan sampai apapun yang kita jumpai, semua menjadi musuh sehingga kita seperti tidak memiliki ruang untuk berbuat banyak hal. Ingatlah selalu ada jalan.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment