Mengapa kita sering melihat ada orang yang berdiskusi, namun tidak bisa memahami satu sama lain. Secara bertatap muka, orang-orang berdiskusi, namun sepertinya tujuan bukan untuk saling memahami, melainkan hanya ingin menyampaikan posisinya masing-masing. Keduanya berbeda. Orang yang berlajar untuk bisa memahami orang lain, lebih lentur dalam melihat pendapat. Sedangkan mereka yang ingin secara teguh memperlihatkan posisi, lebih ego terhadap pendapatnya.
Bukankah orang saling bertemu dan berdiskusi, pada dasarnya bercakap-cakap? Sebagai sebuah cakap, tidak mesti orang lain ikut dan setuju dengan apa yang kita ungkapkan. Namun jangan lupa, ketidaksetujuan itu tidak berarti tidak bisa menerima perbedaan yang ada.
Dengan demikian perbedaan keduanya jelas dan tegas. Sebuah diskusi tidak mesti harus menyatukan dua pendapat, namun yang paling penting untuk saling memahami antara dua atau lebih pendapat. Orang-orang dari ilmu yang saya pelajari, sering disebut bahwa kalau dua orang di antara mereka bertemu, yang lahir tidak dua pendapat, melainkan bisa tiga atau empat pendapat.
Itulah yang saya ingat, ketika suatu pagi, dalam sebuah seminar penting tentang masalah sosial politik, ada pertanyaan seorang peserta yang menarik perhatian saya. Ia menanyakan soal bendera. Pertanyaannya itu diawali gambaran ada yang merasa sangat penting dengan bendera, ada yang menyebutkan bendera hanya sebatas tanda. Orang yang merasa penting, apapun akan dilakukan untuk masalah bendera ini.
Tidak begitu lama, setelah saya ikut seminar itu, secara tidak sengaja, saya menonton sebuah film kartun, di mana antara tokoh di dalamnya sedang saling berperang. Akhir cerita, di antara mereka ada yang kalah, lalu mengibarkan bendera putih agar pihak lainnya tidak memuntahkan peluru lagi ke arah pihak yang mengibarkan bendera putih itu.
Film kartun tersebut, bagi saya juga telah menampakkan fenomena bendera. Walau secara politik, maksud bendera tentu tidak sesederhana itu. Apalagi bagi daerah yang baru mulai berbunga damai dari masa konflik yang begitu lama. Pertanyaan sederhana adalah apakah debat soal bendera itu benar-benar berdasarkan alasan hakiki masing-masing, atau hanya karena psikologi politik yang terlalu lama berkonflik? Seandainya ini sederhana, mengapa antara masing-masing pihak tidak bisa mencapai titik temu? Kepentingan apa menyebabkan pengusul tidak bisa mundur selangkah? Lantas pertimbangan apa pula yang menyebabkan pihak lainnya tidak bisa menerima sama sekali?
Pertanyaannya adalah pilihan itu benar-benar secara hakiki apakah karena pendirian atau karena psikologi? Saya tidak mampu menjawab pertanyaan itu terlalu jauh. Namun sebagai catatan, saya sempat melihat sebuah status teman yang mengunjungi satu daerah, dimana ada daerah lain yang ternyata tidak berdebat soal bendera, tetapi di bangunan resmi di sana terpacak tiga bendera di depannya. Mengapa di sana tidak ada ribut sementara ada wilayah yang berdebat keras. Sekiranya saya bisa menebak-nebak, mungkin karena lambang di dalamnya. Hal ini dibandingkan misalnya dengan masing-masing provinsi yang sudah ada benderanya masing-masing.
Saya tidak berbicara bendera negara. Karena pada tingkat tertentu, berbicara bendera negara juga sangat sensitif. Ia termaktub secara khusus dalam Konstitusi. Perlakuan terhadap bendera akan berakibat terhadap negara dan bangsa. Walau tidak bisa dipungkiri, ada warga negara lain yang menggunakan lambang bendera negaranya di tempat-tempat yang tidak layak. Hal ini tidak bisa dilakukan di negara kita.
Ketika suatu kesempatan saya bertemu lagi dengan penanya dalam suatu seminar, kami berdiskusi berdua saja. Jika kita pahami bagaimana bendera itu bermakna, maka menghabiskan energi untuk memperlakukan bendera adalah sering dilakukan. Posisi bendera negara ketika momentum hari kemerdekaan, dianggap sangat penting. Ada ribuan bendera yang dinaikkan di ketinggian. Warga masyarakat juga menaikkan bendera ketika momentum tertentu datang.
Bendera yang dinaikkan itu dengan warna dan ukuran yang sudah ditentukan. Proses menaikkan dan menurunkan juga demikian. Ketika membolak-balik dan memperlakukan bendera ini serampangan, akan menjadi masalah. Malah akan menjadi masalah besar. Benar kan?