Informasi yang Kontradiksi

Ada apa dengan bencana Aceh? Pertanyaan semacam ini, mungkin tidak muncul dari semua orang. Pertanyaan ini kadang muncul dari orang yang tidak terduga, yang mungkin, kita menganggap mereka tidak tahu apa-apa. Misalnya ada pertanyaan, mengapa …

Ada apa dengan bencana Aceh? Pertanyaan semacam ini, mungkin tidak muncul dari semua orang. Pertanyaan ini kadang muncul dari orang yang tidak terduga, yang mungkin, kita menganggap mereka tidak tahu apa-apa. Misalnya ada pertanyaan, mengapa negara seperti menutup sesuatu? Saya tidak tahu persis, apakah pengelola negara memahami bila pertanyaan itu muncul dari anak-anak ingusan di kampung-kampung? Dari mulut ke mulut, orang Aceh bilang melalui radio meu igoe, berkembang dengan cepat, bahwa ada sesuatu yang ditutupi oleh pengelola negara, sehingga bencana tidak sampai informasinya secara sempurna. Terjadi sesuatu serius pada hutan kita, atau bahkan ada proses ubah lahan yang luar biasa, tetapi negara menutupi informasi ini kepada warganya.

Pengelola negara pun tidak boleh lupa, informasi bisa dicerna dari mana saja. Bukankah informasi ini sendiri bisa diverifikasi dari berbagai ruang? Saya teringat, mungkinkah karena alasan ini pula, perusahaan telekomunikasi turut mematikan akses secara signifikan ketika masa-masa darurat bencana? Padahal ruang komunikasi sangat dibutuhkan pada saat-saat genting saat itu. Lalu informasi apa yang bisa diverifikasi itu? Anak-anak kecil, ingusan, para remaja, ternyata tidak bisa ditutupi dengan pengetahuan mereka tentang alih fungsi lahan yang berlangsung gila-gilaan, entah karena kepentingan siapa. Sawit memang dibutuhkan, tetapi jika jumlahnya sudah gila-gilaan, siapa yang akan menikmati keuntungan dari penderitaan banyak orang.

Ada hal lain yang tiba-tiba terhidang dengan sendirinya. Mungkin cara Tuhan menampakkan puzzle yang tertutup itu. Misalnya, ketika menyampaikan sambutan dalam satu acara, presiden menyebut daerah bencana sudah terkendali dan normal. Namun Harian Kompas, hari presiden menyampaikan itu, 12 Desember 2025, memuat sekitra setengah halaman foto-foto, dengan judul yang sangat mencolok, “Dua Pekan Bencana, Aceh Tamiang Masih Porak-poranda”. Ada dua foto besar, demngan kondisi yang tidak bisa dibayangkan. Dengan tujuh foto berukuran kecil, yang juga memperlihatkan bagaimana korban di kawasan tersebut seperti sedang berjuang sendiri.

Seorang pejabat bencana pusat, dalam siaran langsung wawancara televisi menyebut kondisi bencana yang juga sudah terkendali. Bupati Aceh Tengah yang juga dikonfirmasi secara langsung oleh televisi pada saat bersamaan, menyebut masih ada 80 gampong yang masih terisoloasi, belum ada kemampuan daerah saat itu untuk menjangkau. Begitu juga ketika orang-orang dari Kabupaten Bener Meriah berjuang untuk mendapatkan bahan pangan melalui jalan elak ke wilayah Aceh Utara, tetapi bupatinya menyebut terang-terangan ke televisi yang mewawancarainya secara langsung bahwa orang-orang tersebut adalah pedagang yang mencari bahan pokok untuk dijual. Televisi yang mengonfirmasi secara langsung, menemukan orang-orang tadi ternyata warga yang kehabisan makanan.

Dalam kondisi bagaimana posisi pengelola negara, sejumlah media juga sepertinya ekstra berhati-hati. Mereka menjaga semua pihak, dan sebagiannya hampir lupa untuk selalu memihak kepada para korban yang tidak berdaya. Pada saat yang sama, mereka juga harus menjaga perasaan penguasa. Ada yang tidak teguh pendirian, akan mencabut berita yang sudah disiarkan kapan saja. Atau minimal, setelah menyiarkan satu fakta, akan berlapis dengan semi fakta, atau semacamnya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment